Rabu 25 Feb 2026 12:45 WIB

​Forum Pondok Pesantren Serukan Sholat Gaib untuk Korban Penganiayaan Anggota Brimob

Seluruh pondok pesantren diimbau untuk melaksanakan shalat ghaib serta doa tahlil.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Mas Alamil Huda
Seorang personel Brimob melakukan koordinasi dengan menggunakan alat komunikasi. (Ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Seorang personel Brimob melakukan koordinasi dengan menggunakan alat komunikasi. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, ​INDRAMAYU – Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat bersuara lantang menyikapi tragedi penganiayaan santri atau siswa madrasah tsanawiyah (MTs) di Tual, Maluku. Santri tersebut dianiaya oleh anggota Brimob hingga korban meninggal dunia.

“Kami mewakili seluruh jajaran pengurus (FPP Indramayu) menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhum korban,” ujar Ketua FPP Kabupaten Indramayu, KH Azun Mauzun, kepada Republika, Rabu (25/2/2026).

Baca Juga

Azun menambahkan, sebagai bentuk solidaritas spiritual, FPP Indramayu menyerukan kepada seluruh pondok pesantren untuk melaksanakan sholat gaib serta doa tahlil bersama bagi almarhum.

Ia pun menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan aksi massa yang digelar di Polda DIY sebagai bentuk tuntutan keadilan bagi kaum santri. Mengenai penanganan kasus tersebut, FPP Kabupaten Indramayu memberikan apresiasi terhadap kesigapan Polri yang telah menangkap pelaku dan memberikan sanksi tegas berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). Langkah itu dinilai sebagai respons cepat yang patut dihargai.

“Kami menaruh harapan besar agar kasus kekerasan anggota polisi terhadap santri tidak pernah terjadi lagi di masa depan,” ujar Azun.

​Guna mencegah kejadian serupa, FPP Kabupaten Indramayu mendesak Polri untuk melakukan tes urine secara berkala kepada seluruh anggotanya. Hal itu demi menjaga kesadaran dan kontrol diri personel dalam bertugas. Polri juga diminta untuk tidak segan-segan memecat anggota yang terbukti melanggar hukum jika kasus serupa kembali terulang di kemudian hari.

​Azun menambahkan, sebagai langkah preventif dan pembinaan jangka panjang, FPP Indramayu menyarankan agar Polri menginisiasi kegiatan dakwah kepesantrenan rutin di internal kepolisian. Program itu diharapkan dapat melibatkan tokoh-tokoh pesantren secara langsung untuk membekali mental dan spiritual para anggota Polri agar lebih humanis dalam mengayomi masyarakat.

​"Kami mengapresiasi Polri yang sudah bertindak cepat memecat pelaku, namun evaluasi total tetap harus dilakukan. Kami meminta jangan ada lagi santri yang menjadi korban kekerasan oknum aparat," kata Azun.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Berita Lainnya

Rekomendasi