Rabu 18 Mar 2026 14:27 WIB

Observatorium Bosscha Amati Hilal 1 Syawal 1447 Hijriah Besok Kamis

Pengamatan biasanya dilakukan sesaat setelah Matahari terbenam.

Rep: Ferry Bangkit Rizki/ Red: Karta Raharja Ucu
Petugas berjalan di depan Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (16/1/2023). Observatorium Bosscha yang diresmikan pada 1 Januari 1923 atas prakarsa K. A. R. Bosscha bersama Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Bintang Hindia-Belanda) pada tahun ini genap berusia 100 tahun. Observatorium Bosscha merupakan observatorium modern pertama di Asia Tenggara.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Petugas berjalan di depan Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (16/1/2023). Observatorium Bosscha yang diresmikan pada 1 Januari 1923 atas prakarsa K. A. R. Bosscha bersama Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Bintang Hindia-Belanda) pada tahun ini genap berusia 100 tahun. Observatorium Bosscha merupakan observatorium modern pertama di Asia Tenggara.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Observatorium Bosscha bakal melakukan pengamatan jelang 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis (19/3/2026). Pengamatan untuk memantau kemungkinan terlihatnya bulan sabit muda penanda 1 Syawal itu dilakukan di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

Peneliti Observatorium Bosscha, Yatni Yulianti mengatakan, pengamatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari kegiatan ilmiah rutin observatorium dalam memantau visibilitas hilal serta menyediakan data astronomi yang dapat digunakan sebagai referensi penentuan awal Idul Fitri 1447 Hijriah. "Kegiatan pengamatan bulan sabit oleh Observatorium Bosscha ditujukan untuk meneliti ambang visibilitas (kenampakan) bulan sebagai fungsi dari elongasi terhadap ketebalan sabit bulan, juga dalam rangka rukyatul hilal," kata Yatni dalam keterangan tertulis, Rabu (18/3/2026).

Baca Juga

Yatni menjelaskan, hilal merupakan bulan sabit muda yang dapat diamati setelah Matahari terbenam dan setelah terjadi konjungsi atau ijtimak antara Matahari dan Bulan. Pengamatan biasanya dilakukan sesaat setelah Matahari terbenam dengan memanfaatkan teleskop maupun instrumen astronomi lainnya.

Data hasil pengamatan tersebut juga dapat menjadi rujukan ilmiah bagi pemerintah dan masyarakat dalam memahami dinamika penentuan kalender Hijriah. Kegiatan observasi di Bosscha tidak hanya bertujuan memantau kemungkinan terlihatnya hilal, tetapi juga untuk mempelajari karakteristik visibilitas bulan sabit muda di berbagai kondisi atmosfer dan geometri Matahari-Bulan.

"Untuk mendokumentasikan kondisi visibilitas hilal tersebut, tim Observatorium Bosscha akan melaksanakan pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan di Observatorium Bosscha, Lembang," papar Yatni.

Hasil pengamatan dan perhitungan astronomis dari observatorium tersebut nantinya disampaikan kepada pihak berwenang apabila diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan awal bulan Hijriah. Di Indonesia, penetapan resmi awal Ramadhan maupun Syawal dilakukan pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama. Data astronomi dan laporan rukyat dari berbagai lokasi di Indonesia menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam proses tersebut.

"Tugas Observatorium Bosscha adalah menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian tentang hilal kepada unit pemerintah yang berwenang jika diperlukan sebagai masukan untuk sidang isbat," kata dia.

Berita Lainnya

Rekomendasi