Jumat 27 Mar 2026 09:53 WIB

Wali Kota Bandung Minta Maaf Dua Anak Harimau Benggala Mati Terpapar Virus

Dua anak harimau Benggala mati.

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Karta Raharja Ucu
Induk Harimau Benggala (Panthera Tigris Tigris) menjaga dua anaknya yang baru lahir di Kebun Binatang Bandung, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/8/2025). Kebun Binatang Bandung memiliki koleksi Harimau Benggala (Phantera Tigris Tigris) baru sebanyak dua ekor yang lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan yang bernama Jelita (betina) 4,5 tahun dan Sarukh Khan (jantan) 22 tahun, dengan kelahiran tersebut kini Kebun Binatang Bandung memiliki lima ekor Harimau Benggala (Phantera Tigris Tigris).
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Induk Harimau Benggala (Panthera Tigris Tigris) menjaga dua anaknya yang baru lahir di Kebun Binatang Bandung, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/8/2025). Kebun Binatang Bandung memiliki koleksi Harimau Benggala (Phantera Tigris Tigris) baru sebanyak dua ekor yang lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan yang bernama Jelita (betina) 4,5 tahun dan Sarukh Khan (jantan) 22 tahun, dengan kelahiran tersebut kini Kebun Binatang Bandung memiliki lima ekor Harimau Benggala (Phantera Tigris Tigris).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta maaf atas insiden dua ekor anak Harimau Benggala yang mati di Kebun Binatang Bandung. Kedua ekor anak harimau itu mati karena terpapar oleh virus Feline Panleukopenia.

"Saya mohon maaf karena sampai sekarang kita masih demi kepentingan biosecurity, memang Drenten (Kebun Binatang Bandung) masih belum bisa dibuka sampai kita betul-betul yakin pengelolaannya sudah sangat baik baru kita akan buka nanti untuk masyarakat," ucap dia, Kamis (26/3/2026).

Baca Juga

Ia mengaku sedih mengetahui dua ekor anak harimau Benggala yang berusia delapan tahun mati. Keduanya terkena infeksi virus Feline Panleukopenia.

"Saya secara pribadi juga sangat sedih mengetahui bahwa dua ekor anak harimau yang berusia 8 bulan di kota Bandung ini, kedua-duanya mengalami kematian dan penyebabnya memang adalah hasil pemeriksaan dari para ahli. Keduanya mengalami infeksi positif panleukopenia," kata dia.

Ia mengatakan virus yang menyerang kedua ekor anak harimau terjadi sejak sepekan kemarin dan tergolong ganas dan akut. Penanganan yang dilakukan tidak dapat mencegah kedua ekor anak kematian.

"Tentu saja ini menjadi pelajaran yang sangat penting untuk kita bahwa walaupun beberapa ahli menganggap bahwa panleukopenia ini adalah salah satu virus yang memang banyak menjangkiti tetapi ketika menjangkiti kucing besar usia muda, tingkat fatalitasnya bisa sangat tinggi," kata dia.

Farhan mengatakan pihaknya terus berupaya meningkatkan langkah biosecurity termasuk penataan ulang. Selain itu, pihaknya berharap kerja sama dengan pemerintah pusat, provinsi bisa memperbaiki tata kelola Kebun Binatang Bandung.

Ke depan ia mengatakan reproduksi satwa tidak boleh berhenti di Kebun Binatang Bandung. Selain itu, bakal dilakukan pelepasliaran satwa serta memastikan satwa langka endemik Jawa Barat direproduksi di Kebun Binatang Bandung ini.

"Nah tentunya kami harus meningkatkan berbagai macam cara dan metode untuk memastikan, satu biosecurity-nya aman, kedua penanganan pencegahan juga dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan yang ketiga tata kelola yang baik yang harus kami selesaikan dalam waktu satu bulan ini," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement