Senin 20 Apr 2026 05:45 WIB

Musim Kemarau Diprediksi Lebih Parah, Petani Diminta Percepat Musim Tanam

Musim kemarau diperkirakan akan terjadi lebih awal, lebih kering dan lebih panjang.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Karta Raharja Ucu
Petani merontokkan padi di lahan persawahan di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (6/11/2023). Berdasarkan keterangan petani, saat ini harga gabah kering di tingkat petani naik hingga Rp750 ribu per kuintal. Nilai harga tersebut mengalami perubahan dari harga sebelumnya yang hanya Rp500 ribu. Kenaikan tersebut diakibatkan oleh pasokan panen padi yang berkurang karena faktor musim kemarau.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Petani merontokkan padi di lahan persawahan di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (6/11/2023). Berdasarkan keterangan petani, saat ini harga gabah kering di tingkat petani naik hingga Rp750 ribu per kuintal. Nilai harga tersebut mengalami perubahan dari harga sebelumnya yang hanya Rp500 ribu. Kenaikan tersebut diakibatkan oleh pasokan panen padi yang berkurang karena faktor musim kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA -- Para petani di Kabupaten Majalengka diimbau untuk segera melakukan percepatan tanam padi untuk musim tanam gadu 2026. Hal itu seiring adanya informasi dari BMKG yang menyebutkan musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan terjadi lebih awal, lebih kering dan lebih panjang.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan ( DKP3 ) Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, mengatakan, pihaknya sudah menginstruksikan semua Penyuluh Lapangan Pertanian untuk segera mensosialisasikan percepatan tanam itu kepada petani maupun kelompok tani. Hal itu terutama untuk lahan sawah yang sifatnya tadah hujan.

Baca Juga

“Sawah tadah hujan mengandalkan curah hujan untuk pengairannya,” kata Gatot, Kamis (9/4/2026).

Gatot menyebutkan, saat ini belum seluruh sawah di Kabupaten Majalengka memasuki masa panen. Menurutnya, ada sebagian wilayah yang baru akan panen karena sebelumnya terlambat tanam akibat curah hujan yang tidak merata. Contohnya, wilayah Jatitujuh, Ligung dan sebagian Kertajati yang tidak mendapat pasokan air irigasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement