REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Kosasih mendorong kampus-kampus di Indonesia untuk memiliki mata kuliah tentang ketahanan nasional. Kampus merupakan mitra strategis dalam memperkuat pertahanan nasional di kalangan mahasiswa.
"Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan, inovasi, dan penguatan kapasitas bangsa," ucap dia saat membuka acara di Universitas Pakuan (Unpak) Bogor, Rabu (6/5/2026).
Ia menuturkan, kampus dapat menjadi mitra strategis negara dalam menyiapkan talenta, teknologi dan kebijakan berbasis bukti. Beberapa bentuk kolaborasi yang dapat dilakukan bersama yaitu pengembangan kurikulum terkait isu pertahanan dan keamanan nasional.
Selain itu, kampus dapat berkolaborasi dengan berbagai lembaga negara seperti Kementerian Pertahanan,TNI, BSSN, BRIN, pemerintah daerah hingga industri pertanahan untuk merancang mata kuliah. Atau sertifikat kompetensi di bidang bela negara, keamanan siber, geopolitik, literasi disinformasi, manajemen krisis, dan ketahanan wilayah.
Pangdam III Siliwangi melanjutkan riset terapan untuk menghadapi ancaman nonmiliter pun dapat dilakukan. Seperti kampus mengembangkan sistem deteksi dini ancaman siber yang kian marak, pemetaan disinformasi, sistem komunikasi darurat yang andal, teknologi mitigasi bencana yang efektif, hingga pemetaan risiko wilayah strategis.
"Kolaborasi pertahanan harus memiliki indikator yang jelas, seperti jumlah riset terapan, prototipe teknologi, mahasiswa tersertifikasi, paten, policy brief, peningkatan kandungan lokal," kata dia.
Ia mengatakan Kodam III/Siliwangi berkomitmen mendukung penguatan sumber daya pertahanan nasional melalui jalur pendidikan, penelitian, inovasi, pengabdian masyarakat, dan kerja sama lintas sektor. Ia berharap program pengabdian masyarakat dapat dirasakan manfaatnya.
"Program pengabdian masyarakat yang benar-benar dirasakan manfaatnya,” kata dia.