REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN -- Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah membawa imbas pada harga dan pasokan kedelai impor. Pedagang pun mengalami penurunan omset akibat kondisi tersebut.
Hal itu seperti yang terlihat di salah satu toko grosir kedelai impor di Kabupaten Kuningan. Di tempat tersebut, harga kedelai impor dijual antara Rp11 ribu--Rp12 ribu per kilogram. Sedangkan sebelumnya, harga kedelai impor masih di kisaran Rp9 ribu--Rp10 ribu per kilogram.
“Ya semenjak perang (Amerika-Israel Vs Iran). Karena ini kan barang impor, jadi ya ada kenaikan harga. Pemicunya itu,” ujar anak dari pemilik grosir, Jihan Kesya, Rabu (6/5/2026).
Alih-alih mendapatkan untung dari kenaikan harga tersebut, Jihan mengungkapkan, omset penjualannya justru menurun bahkan sempat anjlok di awal perang. Pasalnya, para pelanggan mengurangi pembeliannya saat mengetahui harga barang naik.
Jihan mengungkapkan, protes dari para pelanggan pun menjadi sesuatu yang harus dihadapi sehari-hari. Pelanggan mengaku kaget hingga berpikir ulang untuk membeli saat mengetahui harga kedelai mengalami kenaikan.
Jihan menyebutkan, toko grosirnya biasanya menjual sekitar 400 kilogram kedelai impor per hari. Namun sejak perang dimulai sampai sekarang, omset sebesar itu belum pernah tercapai kembali.
“Ya sekarang Alhamdulillah udah mulai ada peningkatan lagi, tapi belum kembali seperti dulu," ucap dia.