REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Tak hanya penderitaan saja yang didapatkan Kusnia (21 tahun), korban pengantin pesanan di China itu punya cerita pilu lain tentang keterbatasan ekonomi keluarganya. Warga Desa Jambak, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu itu hingga kini masih tertahan di Negeri Tirai Bambu.
Kisah pilu yang dialami Kusnia terungkap setelah video permintaan tolongnya menyebar di media sosial. Dalam video itu, ia mengaku menjadi korban pengantin pesanan di China dan berharap mendapat pertolongan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).
Ibu kandungnya, Dartem (53), menjelaskan, ia bersama suami dan Kusnia sebelumnya tinggal di Tangerang. Mereka menanam bayam di lahan kosong untuk bertahan hidup.
Kusnia pun mengenyam pendidikannya di Tangerang, hingga tamat SMK. Namun, sang ayah kemudian meninggal dunia dan lahan yang mereka tanami pun mengalami penggusuran tanpa ganti rugi.
Dartem dan Kusnia kemudian memutuskan kembali ke kampung halaman mereka di Kabupaten Indramayu. Namun, akibat keterbatasan ekonomi, ijazah SMK milik Kusnia hingga kini masih tertahan di sekolah.
“Untuk ngambil ijazah SMK-nya harus bayar Rp 2 juta. Kami tidak punya uang,” tutur Dartem, Rabu (13/5/2026).
Setelah kembali ke kampung halaman, Kusnia selalu memiliki keinginan yang kuat untuk bekerja demi membantu ekonomi keluarganya. Namun sayang, ijazah terakhir yang dimilikinya hanya ijazah SMP karena ijazah SMK-nya masih tertahan.
Lihat postingan ini di Instagram