REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Kenaikan harga berbagai bahan baku di pasaran telah membuat para pelaku UMKM harus putar otak. Mereka berusaha bertahan dengan keharusan tetap menjaga daya beli konsumen untuk membeli produk mereka.
Salah seorang pelaku UMKM di Kabupaten Indramayu, Tutin Oktiyanti mengatakan, kondisi saat ini menjadi tantangan yang tidak mudah bagi pelaku UMKM. Menurutnya, pelemahan rupiah bukan hanya persoalan nilai tukar, tetapi menyangkut keberlangsungan usaha kecil.
Selama ini, Tutin memproduksi kue tradisional, yakni gabin. Ia juga memproduksi telur asin rempah khas Indramayu ‘Anandog’.
“Kenaikan dolar sangat berpengaruh terhadap perekonomian. Saya sebagai pelaku UMKM juga merasakannya, seperti lonjakan harga bahan baku dan potensi penurunan daya beli masyarakat,” ujar Tutin, Kamis (4/6/2026).
Tutin menyebutkan, kenaikan harga bahan baku itu dirasakannya pada pembuatan kue gabin. Untuk menjaga kelangsungan usahanya, ia pun memilih mengurangi keuntungan dibandingkan menaikkan harga jual.
“Saya harus mengurangi keuntungan agar harga jual gabin tetap terjangkau oleh masyarakat,” ucap Tutin.
Selain bahan baku gabin yang naik, Tutin pun dibuat pusing dengan kenaikan harga plastik. Selama ini, plastik menjadi salah satu komponen pendukung usahanya.