Rabu 08 Jul 2026 16:28 WIB

Jawa Barat Jadi Tatar Sunda Mematik Polemik, Budayawan Indramayu: Jabar Rumah Heterogen Banyak Etnik

Usulan itu tak merefleksikan realitas historis dan kondisi modern Jabar saat ini.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Karta Raharja Ucu
Ilustrasi Perempuan Sunda.
Foto: ANTARA/Adeng Bustomi
Ilustrasi Perempuan Sunda.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda memantik polemik. Penolakan datang dari berbagai kalangan, terutama dari wilayah Indramayu-Cirebon. 

Penolakan itu salah satunya disampaikan Founder Yayasan Indramayu Historia Foundation, Nang Sadewo. Ia menilai, usulan tersebut tidak merefleksikan realitas historis dan kondisi modern Jawa Barat saat ini.

Baca Juga

Ia pun secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap wacana yang digulirkan oleh sekelompok orang tersebut. Menurutnya, klaim sepihak yang menyebut Jawa Barat didominasi oleh 75 persen Suku Sunda mengabaikan fakta dinamika penduduk di 27 kabupaten/kota yang ada.

"Saya tegas menolak, apalagi itu hanya usulan sekelompok primordial," ujar pria yang akrab disapa Dewo itu, Selasa (7/7/2026).

Dewo menjelaskan, nilai-nilai sejarah seharusnya tidak terjebak pada ego kelompok atau "ke-aku-an". Sebaliknya, sejarah harus mampu berbaur dengan perkembangan zaman. 

Menurutnya, berdasarkan statistik pembangunan saat ini, Jawa Barat telah bertransformasi menjadi rumah yang heterogen bagi berbagai etnis. "Jawa Barat dengan sejarah panjangnya dan hari ini dengan statistik pembangunan yang berkembang, sudah dihuni berbagai etnis yang datang," ucapnya.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi