Jumat 17 Jul 2026 20:23 WIB

Usai KDM Sidak Pabrik Penyebab 'Hujan Salju' di KBB, Warga Kini Bersuara 'Keras' Lewat Spanduk

Aksi itu sebagai kritik atas polusi udara yang berlangsung puluhan tahun.

Rep: Ferry Bangkit Rizki/ Red: Mas Alamil Huda
Sejumlah spanduk kritikan atas masifnya polusi debu dari aktivitas pabrik pengolahan batu kapur terpasang di Jalan Raya Bandung-Cianjur, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan itu menyerupai hujan salju karena diselimuti butiran debu berwarna putih.
Foto: Ferry Bangkit Rizky/Republika
Sejumlah spanduk kritikan atas masifnya polusi debu dari aktivitas pabrik pengolahan batu kapur terpasang di Jalan Raya Bandung-Cianjur, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan itu menyerupai hujan salju karena diselimuti butiran debu berwarna putih.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Usai inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi (KDM) ke industri pengolahan batu kapur di kawasan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kini warga mulai bersuara lewat sejumlah spanduk bertuliskan kritik atas polusi udara yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut. Debu batu kapur itu menyebabkan kawasan tersebut seperti diselumuti salju.

Sejumlah spanduk yang mengatasnamakan Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gampil) itu dipasang di Jalan Raya Bandung-Cianjur. Spanduk-spanduk itu memuat sejumlah tulisan, seperti, "Peringatan Keras Percepat Jalanmu, Lewati Segera Kawasan ini, kalau anda tidak ingin lebih cepat mati. Ini Zona Lomba Polusi". Ada pula tulisan lain, "Anda Memasuki Zona Darurat Polusi (Direstui) Jangan lepas masker anda, karena resiko dan nasibmu ditanggung sendiri."

Baca Juga

Koordinator Gampil Yasun Yusron mengatakan, aksi pasang spanduk itu merupakan bentuk kritik atas polusi udara yang berlangsung puluhan tahun namun tak kunjung diatasi. Padahal masyarakat telah menderita kena paparan debu halus yang memenuhi area pemukiman sehingga genting dan tanaman berwarna putih serta ancaman kesehatan pernapasan.

"Kondisi polusi udara di lingkungan kami sudah sangat tinggi. Debu halus masuk ke rumah memenuhi genting berwarna putih terus menerus. Tiap hari tanpa henti, sehingga dalam spanduk ada kalimat sudah tak layak huni," kata Yasun saat dikonfirmasi, Jumat (17/7/2026).

 

Berita Lainnya

Rekomendasi