REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Air Situ Ciburuy di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat sedang surut karena musim kemarau. Kondisi itu dimanfaatkan anak-anak untuk bermain hingga mencari ikan di situ yang dibangun zaman Belanda itu.
Tawa riang dan ceria terdengar dari sebelah utara Situ Ciburuy yang sudah mengering hingga membentuk hamparan daratan. Di sana, anak-anak terlihat sedang asyik bermain. Ada yang membuat kolam kecil menggunakkan lumpur, bermain bola, bermain rakit, mencari ikan di tepian hingga berenang di situ yang sudah surut dan mendangkal itu.
Aktivitas itu biasa dilakukan anak-anak sedang libur sekolah dan sore hari di saat panas matahari mulai mereda. Bagi mereka, surutnya Situ Ciburuy hingga menghasilkkan hamparan daratan merupakan hiburan gratis yang tak bisa didapat saat debit airnya tinggi.
"Iya lagi main sama temen-temen. Tiap hari ke sini kalau sore pulang sekolah. Kalau libur pagi juga main di sini," tutur Muhammad Faturahman (13 tahun), salah seorang anak kepada Republika, Ahad (19/7/2026).
Penyusutan debit air di situ seluas 25 hektare itu selalu terjadi setiap kemarau panjang karena mengandalkkan air hujan. Kedalamannya disebut menyisakan sekitar 1 sampai 2 meter saja dikarenakan debit airnya terus menyusut dimakan kemarau.
Bahkan Faturahman dan anak-anak lainnya sudah berani berenang meski tidak sampai bagian tengah Situ Ciburuy. Titik yang dicobanya untuk berenang memiliki kedalaman hanya sebatas leher anak-anak dengan tetap memperhatikkan keselamatan.
"Enggak dalam sekarang, paling sampai sini airnya (leher), jadi berani berenang," ucap Faturahman.
Jika sedang beruntung, ia dan teman-temannya kerap mendapat ikan-ikan kecil yang biasanya dibawa pulang ke rumah lalu dimasak. "Suka dapat ikan kecil juga buat dimakan di rumah. Ikan boboso, gabus, nila, sama lobster," ujar dia.
Kepala Desa Ciburuy Firmansyah mengatakan, penyutusan air di Situ Ciburuy memang selalu terjadi saat kemarau panjang. Bahkan paling parah, biasanya untuk ke pulau yang berada di bagian tengah pun bisa dilewati dengan berjalan kaki.
"Kalau musim kemarau memang begini. Biasanya paling parah itu ke pulau bisa jalan kaki, paling yang sisa airnya di area depan aja," kata Firmansyah.