Sabtu 15 Aug 2026 19:40 WIB

Badan Geologi Kemen ESDM Temukan Indikasi Likuifaksi Kategori Rendah Usai Gempa Flores Magnitudo 7,7

Likuifaksi yang terjadi tidak seperti yang terjadi likuifaksi di Palu.

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Karta Raharja Ucu
Warga melintas di depan gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo dengan kedalaman 10 km di 46 kilometer timur laut Labuan Bajo itu terjadi pada pukul  06.13 WITA setelah sebelumnya gempa berkekuatan M 7,7 juga terjadi di timur laut Mbay Nagekeo, NTT.
Foto: ANTARA FOTO/Gecio Viana
Warga melintas di depan gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo dengan kedalaman 10 km di 46 kilometer timur laut Labuan Bajo itu terjadi pada pukul 06.13 WITA setelah sebelumnya gempa berkekuatan M 7,7 juga terjadi di timur laut Mbay Nagekeo, NTT.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan terdapat indikasi bencana likuifaksi di wilayah Waekokak usai terjadi gempa magnitudo 7,7 di Flores, NTT, Sabtu (15/8/2026). Indikasi tersebut berupa adanya mata air yang keluar beberapa saat usai gempa terjadi.

"Jenis likuifaksi berupa semburan air berpasir atau lumpur," ucap Kepala Badan Geologi ESDM Lana Saria saat sesi konferensi pers, Sabtu (15/8/2026).

Baca Juga

Lana mengatakan dampak yang ditimbulkan dari likuifaksi ini adalah kerusakan tanah, pondasi yang relatif rendah hingga sedang. Likuifaksi yang terjadi tidak seperti yang terjadi likuifaksi di Palu.

"Likuifaksi ini masih dalam kategori relatif aman dan bukan seperti kasus likuifaksi tipe Palu yang dapat mengalir jauh," kata dia.

Badan Geologi Kementerian ESDM disebut Lana masih perlu memastikan dengan identifikasi lapangan untuk memastikan apakah likuifaksi atau bukan. Sementara itu, penyebab gempa bumi yang terjadi karena sesar naik busur belakang Flores.

"Sesar naik busur belakang Flores, tercatat pernah menyebabkan gempa bumi merusak dan beberapa di antaranya memicu tsunami," ungkap dia.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi