Selasa 01 Sep 2026 15:09 WIB

Bupati Jeje Siapkan Solusi Konkret Akses Pelajar yang Naik Rakit ke Sekolah di Cililin

Pembangunan jembatan apung membutuhkan anggaran yang cukup besar.

Rep: Ferry Bangkit Rizki/ Red: Gita Amanda
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail mengecek lokasi penyebarang anak menggunakan rakit menuju sekolah di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
Foto: istimewa
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail mengecek lokasi penyebarang anak menggunakan rakit menuju sekolah di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail memastikan sudah menyiapkan solusi konkret untuk mengatasi persoalan pelajar di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat yang setiap hari menggunakan rakit untuk pergi ke sekolah.

Anak-anak di kampung itu harus menyebrangi perairan Waduk Saguling menggunakan rakit bambu menuju SDN Budiharja di Kampung Gombong, Desa Budiharja untuk memangkas jarak dan waktu perjalanan.

Baca Juga

Untuk mencari solusi terbaik itu, Bupati Jeje mengecek langsung ke lokasi ,pada Senin (31/8/2026), untuk melihat kondisi yang selama ini dihadapi para pelajar. Ia menaiki langsung hingga menyusuri jalan setapak menuju sekolah. Dari peninjauan tersebut, Pemkab KBB menemukan berbagai kondisi di lapangan yang menjadi bahan evaluasi sebelum menentukan solusi permanen.

"Berdasarkan kajian teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) KBB, jarak yang harus dilintasi untuk menghubungkan akses warga mencapai sekitar 280 meter," kata Jeje saat dikonfirmasi, Selasa (1/9/2026).

photo
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail mengecek lokasi penyebarang anak menggunakan rakit menuju sekolah di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. - (istimewa)

Dengan bentang tersebut, pembangunan jembatan gantung dinilai tidak memungkinkan sehingga pemerintah daerah mulai mempertimbangkan alternatif lain, salah satunya jembatan apung. Namun, pembangunan jembatan apung membutuhkan anggaran yang cukup besar. Karena itu, Pemkab KBB masih melakukan kajian lebih mendalam, baik dari aspek teknis maupun kemampuan pembiayaan.

"Semua opsi kita kaji. Untuk jangka panjang kita melihat kemungkinan pembangunan akses yang lebih permanen, sementara untuk langkah cepat kita siapkan alternatif transportasi bagi anak-anak," ujar Jeje.

Selagi menunggu keputusan terkait solusi jangka panjang, Pemkab KBB menyiapkan langkah penanganan sementara. Salah satunya dengan menyediakan kendaraan antar-jemput bagi sekitar 16 siswa yang selama ini harus menggunakan rakit untuk menuju sekolah.

"Langkah ini kita harap mengurangi risiko keselamatan yang dihadapi siswa setiap hari, terutama ketika kondisi perairan Waduk Saguling berubah," ucap Jeje.

Jeje menegaskan, seluruh alternatif penanganan masih akan dikoordinasikan dengan pihak terkait. Pemerintah ingin memastikan solusi yang dipilih tidak hanya dapat direalisasikan, tetapi juga aman dan efektif bagi masyarakat.

"Hasil kajian teknis serta berbagai alternatif yang telah disiapkan Pemkab KBB nantinya akan dilaporkan kepada Gubernur Jawa Barat untuk mendapatkan arahan lebih lanjut," kata Jeje. 

Berita Lainnya

Rekomendasi