REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Tanah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dirundung duka usai diguncang gempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 pada 15 Agustus 2026. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terbaru, 135 orang dilaporkan meninggal dalam peristiwa tersebut.
Sebanyak 98.986 unit rumah rusak akibat guncangan gempa itu. Rincianny, 26.089 rusak berat, 22.505 rusak sedang dan 50.391 rusak ringan. Selain itu, 712 fasilitas pendidikan, 147 fasilitas kesehatan dan 663 unit perkantoran mengalami kerusakan.
Kondisi itu menggerakan Agus Nurjaman, seorang Perawat Bedah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Ia dengan sukarela mendaftar meniadi bagian dari Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dikerahkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak bencana.
"Ini adalah panggilan kemanusiaan. Kita sebagai makhluk sosial sudah selayaknya membantu masyarakat yang terdampak. Menjadi relawan kesehatan merupakan salah satu wujud pengabdian bagi bangsa dan negara," kata Agus saat dihubungi, Kamis (10/9/2026).
Pria berusia 37 tahun itu sudah berada di NTT, tepatnya di Puskesmas Mombok, Desa Lengkonamu, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Bersama ratusan relawan kesehatan lainnya, Agus akan bertugas hingga 20 September 2026 untuk membantu penanganan kesehatan para penyintas.
Perjalanan menuju lokasi bencana di NTT juga menjadi tantangan tersendiri. Agus bersama para relawan kesehatan lainnya harus menempuh perjalanan melalui Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur karena saat itu Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara imbas abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sesampainya di Bandara Komodo Labuan Bajo, Agus harus menempuh perjalanan darat selama 15 jam menuju Puskesmas Mombok Manggarai, Timur NTT. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk menjalankan kemanusiaan. Baginya, tantangan dalam perjalanan merupakan bagian dari pengabdian yang harus dijalani demi dapat segera hadir dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
"Perjalanan kali ini memang tidak mudah, tetapi semangat untuk membantu masyarakat tidak boleh surut. Selama kita masih diberikan kesempatan dan kemampuan untuk membantu, kita akan berusaha memberikan yang terbaik," ujar Agus.
Sesampainya di NTT, matanya menjadi saksi betapa dahsyatnya guncangan gempa di wilayah itu. Agus melihat langsung rumah-rumah dan bangunan lainnya hancur pascabencana terjadi Agustus lalu. Mereka yang kehilangan rumah terpaksa harus menginap di tenda sementara waktu.