Rabu 23 Sep 2026 10:18 WIB

Lolos dari Maut, Warga Bandung Barat Ceritakan Mencekamnya Kapal Virgo Jelang Tenggelam

Tak ada alarm peringatan sebelum kapal tenggelam.

Rep: Ferry Bangkit Rizki/ Red: Karta Raharja Ucu
Fasial Weskurni (tengah), warga asal Kabupaten Bandung Barat yang selamat dari tenggelamnya KM Virgo Transport 8.
Foto: Dok Republika
Fasial Weskurni (tengah), warga asal Kabupaten Bandung Barat yang selamat dari tenggelamnya KM Virgo Transport 8.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Faisal Weskurni (25 tahun) mengalami kejadian paling mencekam dalam hidupnya. Ia menjadi salah satu korban selamat dalam peristiwa tenggelamnya KM Virgo Transport 8 rute Surabaya-Banjarmasih, Ahad (13/9/2026). 

Hingga Sabtu (19/9/2026), 117 korban dari total 243 penumpang yang tercatat dalam manifes kapal telah ditemukan. Sebanyak 108 orang berhasil selamat, sementara sembilan lainnya meninggal dunia. Sedangkan Faisal sudah kembali ke rumahnya di Kampung Parakan Tolok, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

Baca Juga

Ia pun menceritakan detik-detik tenggelamnya KM Virgo. Ia saat itu tengah dalam perjalanan seorang diri menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit selama satu tahun. Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi pengalaman yang nyaris merenggut nyawanya.

Saat kejadian, Faisal mengaku masih terjaga dan sedang merokok di dalam kapal. Ia kemudian mendengar suara ledakan dari sisi kiri kapal sebelum menyadari badan kapal mulai miring.

"Waktu kejadian sekitar jam 00.15 aku masih belum tidur. Waktu itu lagi merokok. Kalau aku lihat sebelum kejadian, terus saat kejadian ngambil pelampung," kata Faisal saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).

Menurut Faisal, suara ledakan tersebut terdengar cukup jelas. Tidak lama berselang, posisi kapal berubah miring dan situasi di dalam kapal menjadi gelap. Kondisi tersebut membuat para penumpang panik.

"Sebelum kejadian, sempat ngedengar suara ngebeledak, di sebelah kiri kapal, habis itu miring," ucap dia.

Di tengah kepanikan, Faisal segera mengambil pelampung dan berusaha menyelamatkan diri dengan menuju bagian atas kapal. Ia mengatakan kondisi laut ketika itu cukup berombak, dengan tinggi gelombang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 3 meter.

"Kalau untuk ombak, memang lagi besar sampai 2,5 meter ada lah, ke 3 meter ada gitu. Tapi cuaca baik-baik aja gak lagi hujan," terang Faisal.

Dari atas kapal, Faisal menyaksikan sejumlah penumpang berusaha meminta pertolongan. Sebagian lainnya mulai tercebur ke laut ketika kapal semakin tenggelam.

Faisal juga mengaku tidak mendengar alarm maupun sirene sebagai tanda peringatan bahwa kapal dalam kondisi darurat. Padahal, banyak penumpang saat itu masih tertidur.

“Memang di dalam kapal itu nggak ada serine alarm memberi tahuan bahwa kapal mau tenggelam. Nggak ada, sedangkan posisi banyak orang tidur itu kan,” ucap Faisal.

Berita Lainnya

Rekomendasi