Selasa 29 Sep 2026 13:51 WIB

Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan Padam, Pendaki Diminta Waspada tak Dekati Kawah

Bau sulfur yang menyengat masih tercium pada arah angin dari lokasi manifestasi.

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Karta Raharja Ucu
Petugas memantau aktivitas kawah Gunung Papandayan di Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Ahad (27/9/2026). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menganalisis munculnya fenomena alam api biru di Kawah Gunung Papandayan yang dilakukan sebagai salah satu langkah monitoring aktivitas gunung berapi aktif.
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Petugas memantau aktivitas kawah Gunung Papandayan di Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Ahad (27/9/2026). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menganalisis munculnya fenomena alam api biru di Kawah Gunung Papandayan yang dilakukan sebagai salah satu langkah monitoring aktivitas gunung berapi aktif.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Geologi, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan fenomena blue fire di Gunung Papandayan telah padam. Namun pengunjung atau para pendaki tetap diminta waspada tidak mendekati sejumlah kawah tersebut.

"Hasil pemantauan hingga 26 September 2026, sinar api yang sebelumnya teramati di area Kawah Manuk sudah tidak teramati," ucap Kepala Badan Geologi Lana Saria melalui keterangan resmi dikutip, Senin (28/9/2026).

Baca Juga

Ia mengatakan fenomena blue fire di Gunung Papandayan pernah terjadi pada 22 Februari tahun 2023 dan 12 Juli tahun 2025 di dinding kawah baru. Sedangkan blue fire kembali teramati pada 24 September dini hari dan muncul di area Kawah Manuk yang merupakan kawah aktif di Gunung Papandayan.

"Kemunculan blue fire pada lokasi manifestasi lanas di kompleks Kawah  Manuk menunjukkan adanya pelepasan panas yang cukup tinggi  hingga  mampu menyebabkan pembakaran material permukaan," ungkap dia.

Ia melanjutkan serbuk berwarna menyerupai abu sisa pembakaran ditemukan di sekitar lokasi diduga berkaitan dengan proses pemanasan  atau pembakaran material permukaan akibat paparan panas. Sedangkan Kawah Mas yang berada berdekatan dengan lokasi manifestasi panas  baru tidak menunjukkan perubahan rasio gas yang berarti.

"Berdasarkan data rasio gas, tidak terdapat indikasi perubahan sistem  hidrotermal yang signifikan di bawah Gunung Papandayan yang dapat dikaitkan dengan kemunculan manifestasi panas baru di kompleks Kawah Manuk," ungkap dia.

Berita Lainnya

Rekomendasi