REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Bisnis jam tangan dan jam dinding terus mengalami pertumbuhan di tengah gempuran teknologi digital dan artificial intelligence (AI) di Kota Bandung. Produk yang dijual menyasar kalangan pecinta jam dan juga kolektor yang senang dengan desain jam dan merepresentasikan gaya hidup.
Salah satu pelaku bisnis jam tangan dan jam dinding yang buka sejak tahun 2013 yaitu Gudang Jam. Setelah lama membuka toko di Jalan Dago, ia kini berpindah alamat di Jalan Taman Pramuka, Kota Bandung mengusung flagship store lima lantai bertema Bavarian Clock House.
Di area dalam gedung, pengunjung diajak berwisata sekaligus membeli jam tangan dan jam dinding dari berbagai merek dengan kualitas tinggi. Bahkan terdapat sejumlah menara jam di lokasi tersebut.
Terdapat zona tematik di dalam area gedung mulai G-Shock Experience Corner, Luminox Experience Corner, Vintage Corner hingga area walk-in khusus jam dinding klasik dan Grandfather Clock yang megah.
Selain itu, terdapat Smartwatch Corner dan Strap Corner. Termasuk G-Army jam militer, Lynn jam tangan wanita yang bisa dipersonalisasi, serta Winchester kerajinan kulit handmade dan Zippo Corner.
Owner Gudang Jam Francisco berharap bisa menjadi salah satu destinasi wisata membeli jam tangan dan jam dinding di Kota Bandung. Ia menyebut saat ini gedung yang ditempati lebih representatif, inklusif dan memenuhi kebutuhan pengunjung.
Ia mengatakan terdapat lebih dari 20 merek yang ada di toko dan berbagai pilihan jenis jam tangan atau jam dinding. Francisco menyebut bisnis jam tangan di awal relatif berat karena tidak seperti bisnis kuliner yang ramai. Ia menyebut bisnis jam tangan merupakan pilihan tersier di kalangan masyarakat.
"Kalau dunia merchandise seperti ini, ini sangat susah di awal-awal seperti bayi aja baru lahir, itu yang paling susah-susah. Nah, pas kita sudah tahun keenam ketujuh, tiba-tiba (pandemi) Covid, nah itu yang sangat susah," ucap dia ditemui di Gudang Jam.
Ia mengatakan, pihaknya dihadapkan pada pilihan sulit saat Covid-19 ketika memilih bertahan dengan tidak memotong gaji karyawan. Dengan bantuan pihak ketiga, ia menyebut perusahaannya dapat lepas dari jerat Covid-19 yang membuat lesu bisnis.
Ia menyebut tahun 2017-2018, bisnis jam sempat ramai tanpa diketahui alasan pastinya. Berbagai kesulitan terus dihadapi dan akhirnya dapat keluar dari permasalahan tersebut termasuk menjaga para karyawan tetap bekerja.
Di Gudang Jam, ia menyebut merek G-Shock dijual dari Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta. Selain itu terdapat merek lainnya dijual Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.
"Kita tidak mau menjual yang sangat murah karena sering rusak, kita maunya kualitas," ungkap dia.
Ia memastikan semua produk yang dijual asli dengan garansi karena mengejar kepuasan pelanggan. Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, ia mengaku tetap optimis dapat menjual banyak jam tangan dan jam dinding.
"Kita ngeri-ngeri sedap ya, kita bertahan dulu. Ya, kita bertahan, maksudnya mah yang jual makanan sama baju aja susah, apalagi kita," kata dia.