Rabu 30 Sep 2026 17:33 WIB

Ekonomi Jabar Menggeliat, Pelanggan Bisnis dan Industri PLN UID Jabar Tumbuh Hingga 11,32 Persen

Jumlah pel.anggan bisnis mencapai 1.054.347 pelanggan.

Sektor bisnis dan industri di Jawa Barat (Jabar), terus menunjukkan perkembangan positif sepanjang Semester I 2026. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan jumlah pelanggan bisnis dan industri yang dilayani PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jabar secara year-on-year (YoY).
Foto: Dok Istimewa
Sektor bisnis dan industri di Jawa Barat (Jabar), terus menunjukkan perkembangan positif sepanjang Semester I 2026. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan jumlah pelanggan bisnis dan industri yang dilayani PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jabar secara year-on-year (YoY).

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Sektor bisnis dan industri di Jawa Barat (Jabar), terus menunjukkan perkembangan positif sepanjang Semester I 2026. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan jumlah pelanggan bisnis dan industri yang dilayani PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jabar secara year-on-year (YoY).

Jumlah pelanggan bisnis mencapai 1.054.347 pelanggan, tumbuh 11,32 persen dibandingkan Semester I 2025 yang tercatat sebanyak 947.135 pelanggan. Sementara itu, pelanggan industri meningkat 8,38 persen dari 19.157 pelanggan menjadi 20.762 pelanggan pada periode yang sama.

Menurut General Manager PT PLN (Persero) UID Jabar, Muhammad Joharifin, pertumbuhan pelanggan bisnis dan industri menjadi salah satu indikator berkembangnya aktivitas produktif di Jabar. PLN terus mengimbangi pertumbuhan tersebut dengan memastikan kesiapan infrastruktur kelistrikan serta meningkatkan kualitas layanan bagi dunia usaha.

“Pertumbuhan pelanggan bisnis dan industri menunjukkan aktivitas produktif di Jawa Barat terus berkembang. Bagi PLN, hal ini menjadi dorongan untuk terus memastikan kebutuhan listrik pelanggan dapat dipenuhi dengan layanan yang semakin mudah, cepat, dan andal sehingga kegiatan usaha dapat berjalan dan berkembang dengan baik,” ujar Joharifin.

Pertumbuhan pelanggan dari sektor produktif tersebut juga berjalan beriringan dengan geliat investasi di Jabar. Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jabar, realisasi investasi sepanjang Semester I 2026 mencapai Rp138,13 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 246.887 orang. Capaian tersebut menempatkan Jawa Barat sebagai salah satu tujuan investasi utama di Indonesia sekaligus provinsi dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar pada semester pertama tahun ini.

Joharifin menjelaskan, pertumbuhan dunia usaha perlu diimbangi dengan ketersediaan listrik yang memadai dan kemudahan memperoleh layanan kelistrikan. Selain menjaga keandalan pasokan, PLN terus meningkatkan kualitas proses pelayanan agar kebutuhan listrik pelanggan dapat dipenuhi secara cepat dan sesuai dengan kebutuhan usahanya.

“PLN ingin memastikan pertumbuhan dunia usaha di Jawa Barat diikuti dengan kesiapan layanan kelistrikan yang memadai. Ketika pelaku usaha membutuhkan listrik untuk memulai, meningkatkan kapasitas, maupun mengembangkan usahanya, kami siap memberikan dukungan kelistrikan sesuai kebutuhan,” tambah Joharifin.

Menurut Joharifin, ketersediaan listrik yang andal memiliki peran penting dalam menjaga produktivitas sekaligus membuka ruang bagi dunia usaha untuk terus bertumbuh. Karena itu, PLN UID Jawa Barat akan terus memperkuat infrastruktur kelistrikan dan meningkatkan kualitas layanan seiring dengan berkembangnya kebutuhan pelanggan.

“Listrik bukan hanya menjadi kebutuhan operasional, tetapi juga salah satu penggerak aktivitas ekonomi. Kami berharap semakin mudahnya masyarakat dan pelaku usaha memperoleh akses listrik dapat mendukung peningkatan produktivitas, pertumbuhan usaha, serta memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat Jawa Barat,” kata Joharifin.

Sementara menurut itu, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata menilai keandalan pasokan listrik menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat daya saing daerah dan mendukung iklim investasi.

Bonti mengatakan, bagi dunia usaha, persoalan kelistrikan tidak berhenti pada ada atau tidaknya pasokan. Pelaku usaha membutuhkan listrik yang andal dan sesuai dengan kebutuhan kegiatan ekonomi. “Listrik bagi dunia usaha bukan hanya soal ada atau tidak ada saja, melainkan soal andal atau tidaknya listrik tersebut,” kata Bonti.

Menurutnya, listrik telah menjadi bagian dari berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari industri dan UMKM hingga rumah sakit, pusat data, pertanian, dan perikanan.

Karakter kebutuhan tersebut, kata dia, berbeda di setiap sektor. Kawasan industri membutuhkan listrik untuk proses produksi, sektor pertanian memanfaatkannya untuk irigasi dan pengolahan hasil, sementara sektor perikanan membutuhkan listrik untuk fasilitas cold storage. “Karena itu, keandalan listrik harus dilihat sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi dan daya saing daerah dan negara,” katanya.

Bonti menilai perkembangan kebutuhan tersebut perlu diantisipasi melalui perencanaan kelistrikan jangka panjang. Menurutnya, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 memperhitungkan perkembangan sejumlah sektor strategis, termasuk kawasan industri, hilirisasi, pusat data, kendaraan listrik, dan berbagai proyek strategis lainnya.

Di tingkat daerah, kata dia, kebutuhan tersebut kemudian perlu diterjemahkan melalui kesiapan sistem kelistrikan sesuai perkembangan pusat-pusat ekonomi. Di Jabar, salah satu gambaran kebutuhan tersebut terlihat dari dukungan PLN UID Jabar terhadap pelanggan industri dengan kebutuhan daya besar. PLN menyuplai listrik sebesar 250 MVA kepada IKPP Karawang untuk mendukung ekspansi perusahaan.

Menurut Bonti, penyelarasan antara kebutuhan energi dan perkembangan ekonomi membutuhkan sinergi antara PLN, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha. “Kalau semua data itu disatukan, kita bisa membangun listrik tepat kapasitas, tepat lokasi, dan tepat waktu,” kata Bonti.

Bonti menilai, perencanaan tersebut penting agar pembangunan infrastruktur tidak berjalan terpisah dari arah perkembangan ekonomi wilayah. Selain itu, manfaat listrik perlu dilihat dari pemanfaatannya untuk kegiatan produktif. “Pendekatannya perlu diubah dari ‘listrik masuk’ menjadi ‘listrik menghasilkan’,” katanya.

Berita Lainnya

Rekomendasi