Kamis 01 Oct 2026 16:41 WIB

Usai KDM Kunjungi Situ Cisanti, Penanaman Pohon di Kawasan Hulu Digencarkan

Penghijauan kembali Situ Cisanti perlu mempertimbangkan karakteristik lahan

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sejumlah relawan dari pecinta alam universitas mengikuti gerakan Bebersih Leuweung di Kilometer 0 Citarum, Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026). Republika kembali menggelar kegiatan Bebersih Leuweung dalam rangkaian acara ESG Now Movement dengan melibatkan warga, mahasiswa dan lembaga lingkungan untuk yang ke empat kalinya sebagai wujud komitmen Republika untuk mengedukasi masyarakat terkait kesadaran buang dan pilah sampah dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Sejumlah relawan dari pecinta alam universitas mengikuti gerakan Bebersih Leuweung di Kilometer 0 Citarum, Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026). Republika kembali menggelar kegiatan Bebersih Leuweung dalam rangkaian acara ESG Now Movement dengan melibatkan warga, mahasiswa dan lembaga lingkungan untuk yang ke empat kalinya sebagai wujud komitmen Republika untuk mengedukasi masyarakat terkait kesadaran buang dan pilah sampah dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Penanaman pohon di kawasan hulu Situ Cisanti tepatnya di kawasan Cilembang, Pangalengan, Kabupaten Bandung terus digencarkan usai Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan kunjungan beberapa waktu lalu. Pohon yang ditanam pun sesuai karakteristik kawasan.

Region Head PTPN I Regional 2 Desmanto mengatakan pihaknya siap berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menghijaukan kembali kawasan Cikembang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Lahan di kawasan itu akan ditanami aneka pohon dan tanaman khas yang sesuai dengan karakteristik serta kondisi ekologis kawasan.

"Kami menyambut baik rencana Pak Gubernur Jawa Barat untuk melakukan kerja sama menghijaukan kembali lahan-lahan PTPN. Kami siap mendukung melalui penanaman kembali dengan pohon dan tanaman khas yang sesuai dengan kondisi kawasan Cikembang,” ucap dia, Kamis (1/10/2026).

Ia mengatakan, langkah tersebut sejalan dengan inisiasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mengembalikan fungsi ekologis lahan perkebunan. Selama ini lahan yang ada dimanfaatkan masyarakat untuk tanaman musiman.

Desmanto mengatakan penghijauan kembali kawasan tersebut perlu mempertimbangkan karakteristik lahan, kemiringan areal, kondisi tanah. Serta kesesuaian jenis tanaman dengan ekosistem setempat. Penanaman tidak hanya diarahkan untuk menambah tutupan hijau, tetapi membangun vegetasi.

“Jenis pohon dan tanaman yang ditanam tentunya akan disesuaikan dengan kondisi lahan dan karakter kawasan," kata dia.

Baginya yang utama adalah kawasan kembali memiliki tutupan vegetasi yang kuat, beragam, dan sesuai dengan ekosistem setempat. Penanaman pohon dapat dipadukan dengan tanaman khas kawasan dan jenis tanaman berkayu lainnya sehingga membentuk vegetasi yang lebih beragam.

Dengan pola tersebut diharapkan dapat membantu menjaga struktur tanah, meningkatkan daya serap air. Serta sekaligus mengurangi paparan langsung air hujan terhadap permukaan tanah.

“Dengan vegetasi yang lebih beragam, kita berharap fungsi ekologis kawasan dapat semakin kuat," kata dia.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) membeberkan strategi dalam menjaga hutan dan kebun di Jawa Barat agar tetap lestari. Beberapa diantaranya menyewa lahan perkebunan, penanaman di area kehutanan hingga mempekerjakan petani penggarap dengan upah Rp 2,5 juta.

"Saya ketika melihat kebun teh mengalami perubahan, lahan disewakan, dibangun lahan bisnis-bisnis yang lain yang mengancam ekosistem kebun teh, maka sekuat tenaga saya mengubah," ucap dia di acara ESG Ground Talk dan Bebersih Leuweung di Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9/2026).

Dengan kondisi itu, ia mengatakan sejumlah kebijakan dikeluarkan mulai dari lahan perkebunan dari pada disewakan ke orang lain lebih baik disewakan ke Pemprov Jabar. Pemetik teh dan penanamnya bakal digaji oleh Pemprov Jabar tiap bulan.

"Rakyat kita ini sering kali diperalat oleh para pemodal untuk melakukan kerusakan. Nih nih, lihat ya maka digaji oleh saya," kata dia.

Untuk lahan kehutanan, ia mengatakan akan dilakukan penanaman termasuk sudah dilakukan hingga Gunung Ciremai. Sedangkan petani penggarapnya digaji Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan.

"Penggarapnya tidak boleh ngerjain lagi yang lain, digaji Rp 1,5 juta, Rp 2 juta per bulan, ganti kuli macul. Kuli macul sehari kuli sehari tidak Rp 2 juta per bulan," kata dia.

Berita Lainnya

Rekomendasi