Senin 05 Oct 2026 17:49 WIB

Stok Beras Premium di Pasar Tradisional Stabil, Tapi Harganya Naik

Distribusi beras diklaim masih lancar di tengah ancaman gagal panen karena kemarau.

Rep: Ferry Bangkit Rizki/ Red: Karta Raharja Ucu
Pedagang beras di Pasar Atas Cimahi, Jawa Barat. Mereka memastikan stok beras premium masih aman.
Foto: Ferry Bangkit Rizki/Republika
Pedagang beras di Pasar Atas Cimahi, Jawa Barat. Mereka memastikan stok beras premium masih aman.

REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Kelangkaan beras premium ukuran 5 kilogram (kg) di sejumlah ritel modern tidak terlihat di pasar tradisional. Pedagang beras di Pasar Atas Baru, Kota Cimahi, Jawa Barat mengaku pasokan beras masih aman meskipun harganya ada sedikit kenaikan.

Tiah (50 tahun), salah seorang pedagang beras di Pasar Atas Baru mengatakan, hingga kini pasokan beras baik premium maupun medium masih aman dan tidak ada kelangkaan. "Kalau pasokan mah Alhamdulillah masih aman, asal ada buat modalnya. Termasuk beras yang bagusnya (premium)," tutur Tiah kepada Republika, Senin (5/10/2026).

Baca Juga

Dia menjelaskan, beras yang dijualnya kepada konsumen ini didapat dari wilayah penghasil seperti Kabupaten Bandung, Cianjur dan lainnya. Pasokan yang didapatnya pun tergantung pemesanan.

Sejauh ini, kata dia, distribusinya masih lancar meskipun di tengah ancaman gagal panen karena kemarau panjang. "Biasanya dapat dari Ciparay (Kabupaten Bandung), Cianjur. Kalau pesen langsung dikirim, premium juga masih ada," ucap dia.

Meski stoknya aman, namun Tiah mengakui ada sedikit kenaikan harga baik untuk beras medium maupun premium. Untuk medium, awanya ia menjual Rp14.000-14.500 per kilogram, tapi sekarang naik menjadi Rp15.000 per kilogram. Sedangkan untuk beras premium naik dari 16.500 meniadi 17.000 per kilogram.

Tingginya harga beras ini berdampak terhadap kuantitas pembelian beras oleh konsumen. Dia mencontohkan, konsumen yang biasanya membeli beras 5 kilogram. sekarang dikurangi menjadi 3 kilogram atau 5 kilogram.

"Naiknya rata-rata Rp500. Tapi Alhamdulillah kalau yang beli ada aja meskipun tinggi karena ini kan kebutuhan pokok. Cuma memang ada penurunan pembelian," ujar dia.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi