Rabu 01 Mar 2023 08:01 WIB

Tanggulangi Wabah Difteri, Dinas Kesehatan Jabar Gelar Imunisasi

Upaya imunisasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh juga mengisolasi penyebarannya.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Petugas kesehatan melakukan vaksinasi ORI di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Senin (27/2/2023). Vaksinasi itu dilakukan menyusul penetapan KLB penyakit difteri di Kabupaten Garut.
Foto: Dok. Dinas Kesehatan Kabupaten Garut
Petugas kesehatan melakukan vaksinasi ORI di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Senin (27/2/2023). Vaksinasi itu dilakukan menyusul penetapan KLB penyakit difteri di Kabupaten Garut.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dinas Kesehatan Jawa Barat melakukan Outbreak Response Immunization(ORI) untuk menanggulangi wabah difteri yang baru-baru ini terjadi di Kabupaten Garut. 

Menurut Kepala Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Jabar Rochady, Outbreak Response Immunization (ORI) tersebut baru digelar di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut yang sudah positif terjadi wabah difteri. 

"Jadi baru kita lakukan di Kabupaten Garut, khususnya di Kecamatan Pangatikan yang sudah positif, sementara enam daerah lainnya masih dilakukan pemeriksaan sampling di laboratorium," ujar Rochady di Kota Bandung, Selasa (28/2/2023). 

Rochady mengatakan, sasaran ORI di Kecamatan Pangatikan lebih dari 11.000 orang dari golongan usia 0 hingga 11 bulan, bayi di bawah dua tahun, anak usia sekolah kelas 1, kelas 2, dan kelas 5. 

"Namun kita kemarin menghadapi kendala cuaca hujan besar, jadi target 1.800 di kecamatan itu baru 800 sasaran yang diimunisasi. Maka dalam seminggu ini kita akan kejar ORI di Kecamatan Pangatikan,"katanya. 

Upaya imunisasi tersebut, menurut Rochady, selain untuk meningkatkan kekebalan tubuh, juga pada kasus tertentu untuk mengisolasi penyebaran penyakit agar tidak meluas ke tempat lain. 

"Selain itu penerapan protokol kesehatan tetap harus dilakukan karena cara penyebaran difteri ini mirip dengan COVID-19 melalui droplet, pemakaian alat makan dan alat-alat lain secara bersamaan," katanya. 

Sejauh ini, menurut Rochady, Jabar tidak menetapkan kasus difteri sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). KLB baru dinyatakan di Kabupatem Garut saja. 

Sementara Ketua Tim Surveilans Dinkes Jabar Dewi Ambarwati, sebagian warga sekitar tidak menyadari penyakit difteri sehingga lalai dalam penanganan pertama. 

"Gejala-gejalanya demam dan sakit menelan. Kemudian kalau dilihat di pangkal tenggorokannya ada selaput putih. Nah itu harus segera ditangani karena kalau terlambat, racun dari difteri itu bisa sampai ke jantung, dan itulah yang menyebabkan kematian," paparnya. 

Untuk enam daerah lain yang terdapat suspek difteri, kata Dewi, Dinkes Jabar juga melakukan penanganan dengan memberikan Anti Difteri Serum (ADS), pelacakan kontak erat, dan pengambilan sampel dari suspek. Enam daerah itu adalah Cianjur, Tasikmalaya, Indramayu, Karawang, Bandung Barat, Kota Bogor, dan Sukabumi. 

"Sudah kita lakukan treatment di enam daerah tersebut, tinggal menunggu hasil laboratoriumnya," katanya. 

Menurut Dewi menyampaikan, direncanakan istri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Atalia Praratya Ridwan Kamil akan berkunjung ke Garut hari Rabu (1/3/2023) besok untuk menyampaikan belasungkawa terhadap keluarga pasien meninggal dan kampanye pentingnya vaksinasi. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement