Jumat 23 Jun 2023 06:41 WIB

Pengusaha Teh: Harus Mulai Membidik Pasar Milenial

Agar menarik minat kaum muda nikmati teh, produk bisa dikombinasikan citarasa lain.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Workshop Teh Rakyat di Tengah Peluang dan Tantangan, di Roemah Kentang 1908, Kota Bandung.
Foto: dok. Republika
Workshop Teh Rakyat di Tengah Peluang dan Tantangan, di Roemah Kentang 1908, Kota Bandung.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Peluang pemasaran teh dinilai masih cukup luas. Selain ekspor, bahkan pasar di dalam negeri masih sangat menjanjikan terutama di kalangan usia milenial.

Menurut Sekretaris Eksekutif Asosiasi Teh Indonesia (ATI) Atik Dharmadi, dari sekitar 276 juta penduduk Indonesia, lebih dari 20 persennya merupakan kaum milenial.

"Pasar milenial ini harus benar-benar dibidik oleh pengusaha teh. Dan produk yang dibuat juga harus sesuai dengan tujuan pasarnya," ujar Atik dalam Workshop Teh Rakyat di Tengah Peluang dan Tantangan, di Roemah Kentang 1908, Kota Bandung, Kamis (22/6/2023).

Atik menjelaskan, pasar teh yang biasa dikonsumsi kalangan yang sudah berusia, sudah banyak dipasarkan. Seperti teh hijau, teh hitam, dan teh wangi yang diseduh dengan cara seperti biasanya.

Namun untuk kalangan milenial, kata dia, pengusaha teh rakyat harus menyesuaikan. Misalnya, dengan memproduksi teh ready to drink. Agar semakin menarik minat kaum muda menikmati teh, produk juga bisa dikombinasikan dengan citarasa lain, seperti kayu manis, jahe, susu, dan lainnya.

Petani teh, kata dia, sebaiknya jangan minder dengan kondisi industri teh nasional saat ini. Karena, dengan kepemilikan lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 0,5 hingga 2 ha per orang, petani bisa berhimpun ke dalam paguyuban.

"Apalagi sekarang harga pucuk teh basah segitu-gitu saja, sekitar Rp2.000 hingga Rp2.800 per kg. Perlu ada integrasi antara kebun, pengolahan, dan pemasaran agar petani teh semakin bersemangat," paparnya

Atik mengatakan, dari tahun ke tahun, surplus ekspor impor teh nasional terus mengalami penurunan. Pada 2010, surplus ekspor impor teh Indonesia berada di kisaran USD16 juta, dengan angka impor hanya 5 ton. Sedangkan pada 2021, surplus ekspor impor teh nasional hanya tinggal USD6 juta.

Sementara menurut Veronika Ratri, dari Business Watch Indonesia (BWI), kualitas produk petani sekarang sudah bagus. BWI ingin mendorong promosi produk petani teh rakyat agar semakin diminati pasar.

"Kita butuh dukungan dari semua pihak untuk bantu promosikan produk petani. Semoga penghasilan petani bertambah, semangat petani melestarikan perkebunannya semakin kuat," katanya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement