Senin 31 Jul 2023 14:10 WIB

Sasaka Sinergi Foundation Wujudkan Pembangunan Jembatan di Cibalong Garut

Saat sungai meluap, tanpa adanya jembatan, warga harus memutar 15-35 kilometer.

 Anak-anak melewati jembatan yang menghubungkan wilayah Kampung Cibatok, Desa Sagara, dan Kampung Cibanen, Desa Mekarmukti, di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Foto: Dok Sinergi Foundation
Anak-anak melewati jembatan yang menghubungkan wilayah Kampung Cibatok, Desa Sagara, dan Kampung Cibanen, Desa Mekarmukti, di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT — Keberadaan jembatan yang menghubungkan Desa Sagara dan Mekarmukti di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dirasa penting untuk memudahkan lalu lintas warga sekitar. Kebutuhan jembatan itu dijawab oleh Sasaka, yang berkolaborasi dengan Sonam Group.

Sasaka merupakan program kemanusiaan yang diinisiasi Sinergi Foundation, dengan fokus pada pembangunan fasilitas umum berupa jembatan. Jembatan di Cibalong itu merupakan yang ke-12 dibangun oleh Sasaka.

Sasaka melihat kebutuhan jembatan yang menghubungkan wilayah Kampung Cibatok, Desa Sagara, dan Kampung Cibanen, Desa Mekarmukti, di Kecamatan Cibalong. 

“Tanpa jembatan, warga melakukan pendangkalan sungai dengan penumpukan batu dan ikatan kawat besi sebagai penopang pijakan. Kalau lagi musim hujan, sungai meluap, warga harus memutar sejauh 15-35 kilometer,” kata koordinator lapangan Sasaka untuk pembangunan jembatan, Rifki Achmad Fachrezy, dalam keterangan Sinergi Foundation, yang diterima Republika, Senin (31/7/2023).

 

Tanpa jembatan, menyeberangi sungai dengan cara tersebut penuh risiko. Namun, hal itu ditempuh warga untuk menjalani aktivitas sehari-hari, seperti terkait ekonomi maupun pendidikan.

Desa Sagara dan Mekarmukti kaya akan hasil bumi, di antaranya padi, kelapa, karet, dan kayu. Banyak juga kolam ikan air tawar. Dengan adanya jembatan, diharapkan dapat memudahkan mobilitas warga.

Sempat cuek

Berdasarkan informasi yang didapatnya, Rifki mengatakan, sudah pernah ada pihak yang melakukan survei untuk membangun jembatan. Namun, tak kunjung terealisasi. “Sepanjang aliran sungai jarang ada yang membangun jembatan. Ada juga yang survei ke lokasi untuk jembatan, tapi tak ada yang eksekusi,” kata Rifki.

Sasaka mewujudkan pembangunan jembatan itu. Jembatan yang dibangun sepanjang 50 meter. Menurut Rifki, warga sekitar sempat tak acuh ketika Sasana memulai pembangunan jembatan.

“Awalnya warga cuek-cuek saja ketika tim Sasaka survei. Warga sudah hopelesss soal rencana pembangunan jembatan karena selama ini tidak ada yang eksekusi. Ketika alat berat berdatangan pun warga masih cuek. Lama-lama, karena prosesnya terus-menerus, akhirnya warga mulai aware dan banyak yang membantu,” kata Rifki.

Dengan dukungan warga, Rifki mengatakan, pembangunan jembatan dilakukan dalam waktu 17 hari. Setelah adanya jembatan ini, Sasaka berharap warga sekitar merasa lebih nyaman dan aman ketika menyeberangi sungai. Lalu lintas warga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari pun diharapkan lebih lancar, tanpa harus memutar lebih jauh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement