Rabu 23 Aug 2023 16:36 WIB

Elektabilitasnya Turun Padahal Survei Bacawapres Teratas, Ridwan Kamil: Saya tak Deklarasi

Ada faktor utama yang membuat namanya mengalami tren penurunan dari hasil survei.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Gubernur Jabar Ridwan Kamil.
Foto: Dok. Diskominfo Kabupaten Garut
Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Ridwan Kamil menduduki peringkat tertinggi bakal calon presiden (Bacawapres). Hal tersebut, berdasarkan hasil survei Litbang Kompas yang dirilis pada Selasa (23/8/2023).

Pada survei itu, tingkat elektabilitas Ridwan Kamil di Agustus 2023 berada di urutan pertama yakni 8,4 persen, diikuti Sandiaga Uno 8,2 persen dan Erick Thohir 8,0 persen.

Tapi, walaupun menjadi Bacawapres ada di urutan teratas, tingkat elektabilitas Ridwan Kamil mengalami trend penurunan dari waktu ke waktu.

Berdasarkan survei, pada Januari 2023 tingkat elektabilitas Gubernur Jawa Barat sebagai Bacawapres ada di angka 10,1 persen. Namun angka itu terus menurun yakni 9,3 persen pada Mei 2023 dan 8,4 persen pada Agustus ini.

Ridwan Kamil sendiri mengaku, tak mempermasalahkan tingkat elektabilitas dirinya turun seiring berjalannya waktu. Karena, ada faktor utama yang membuat namanya mengalami tren penurunan dari hasil survei sebagai Bacawapres.

"Poinnya sederhana karena saya tidak deklarasi," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil kepada wartawan di Bandung, Rabu (23/8/2023).

Emil mengatakan, bisa saja tingkat elektabilitas dirinya terus naik dari waktu ke waktu jika ia melakukan deklarasi. Namun, ia sadar saat ini dirinya merupakan bagian dari Partai Golkar yang tentunya punya sikap politik sendiri.

"Kalau deklarasi naik, tapi kan saya tahu diri bahwa keputusan capres cawapres kewenangan partai," katanya.

Saat ditanya soal isu Ridwan Kamil yang yang akan didampingkan dengan Capres yang diusung PDIP, Ganjar Pranowo, Emil mengatakan takdir akan menjawab semuanya. Sebab, selama dua kali ikut kontes politik, dirinya tak bisa menentukan pasangan.

"Ya dengan siapa aja kalau takdirnya ada, tidak masalah. Dua kali pilkada tidak semua pengantin memilih jodohnya sendiri, jadi dijodohkan dengan siapa," katanya.

Emil mengatakan, belum tentu juga ia bertakdir sebagai Cawapres. Sedangkan kalau hasil survei ada naik turun itu hal biasa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement