Jumat 08 Sep 2023 16:02 WIB

120 Hektare Tanaman Padi di Sukabumi Gagal Panen

Pemkot berupaya mencegah dampak kekeringan itu terus meluas

Rep: Riga Nurul Iman / Red: Agus Yulianto
Tanaman padi mulai menguning akibat kekeringan di saat kemarau.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Tanaman padi mulai menguning akibat kekeringan di saat kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Sekitar 120 hektare tanaman padi di Kota Sukabumi, mengalami gagal panen. Saat ini, pemkot berupaya mencegah dampak kekeringan itu terus meluas.

Hal ini disampaikan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi membuka Sosialisasi keamanan pangan segar dengan tema ' Tidak ada ketahanan pangan tanpa keamanan pangan' digelar di Aula Pertemua Bjb Kota Sukabumi, Jumat (8/9/2023). Kegiatan yang digagas Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi ini dalam mendorong ketahanan pangan dengan melibatkan unsur kelompok tani dan Asosiasi Pekarangan Pangan Lestari (Appari).

''Momen ini digelar di tengah informasi ada 120 hektare tanaman padi terancam gagal panen dan kini dilakukan percepatan penanganan irigasi yang bermasalah, sehingga tidak meluas gagal panen,'' ujar Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi. 

Dia mengatakan, pada kondisi tidak gagal panen juga lahan pertanian di kota hanya memenuhi 30 persen kebutuhan dan sisanya dari luar. "Bayangkan ketika terjadi gagal panen akan lebih tergantung pada wilayah lain," ucap dia. Fahmi menekankan, adanya tiga pilar ketahanan pangan. Yakni ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan.

Ketiganya harus dipersiapkan sejak dini. Sehingga Kota Sukabumi tetap mempertahankan lahan sawah yang dilindungi (LSD) dan LP2B. Meskipun ada mindset perkotaan wilayah penyangga, namun Sukabumi tetap mempertahankan sawah.

Hal ini, kata Fahmi, karena tidak ada ketahanan pangan tanpa keamanan pangan. Ke depan, tugas para kelompok tani, Appari, KTNA, KWT dan tugas pemerintah menghadirkan keamaan pangan dalam kedaulatan pangan. Sebab, kata Fahmi, pertempuran ke depan terkait kedaulatan pangan, sehingga tidak dijajah.

Telebih lanjut Fahmi, dampak pangan tidak aman dari data yang ada menyebabkan sekitar 1,6 juta orang sakit per hari dan 200 jenis penyakit yang muncul karena pangan tidak aman. Keamanan pangan sendiri merupakan kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.

Keberadaan KWT dan Appari serta kelompok tani hadirkan pangan dan sehat demi ketahanan pangan. Kondisi keamanan pangan saat ini ditandai dengan rendahnya produksi masih rendah.

Misalnya, Sukabumu hanya bisa siapkan 30 persen lahan terbatas dan produksi masih rendah. Solusinya dengan IP 400 bisa panen sebanyak empat kali dalam setahun.

Tantangan lainnya, tutur Fahmi, tuntutan keamanan produk, warga

berharap keamanan produk pangan. Selain itu, penggunaan pestisida yang aman dan mencegah kasus ketidakamanan pangan.

''Mari sama-sama bersinergi mewujudkan keamanan pangan melalui simpul koordinasi dan sinergi pentahelix,'' ujar Fahmi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement