Senin 09 Oct 2023 12:00 WIB

Bandung Raya Alami Cuaca Panas Ekstrem

Suhu udara ekstrem yaitu kondisi suhu yang mencapai 3 derajat celcius atau lebih.

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Gita Amanda
Petugas Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan Kota Bandung (DPKP3), Kota Bandung, melakukan pemangkasan bagian pohon yang lapuk dan menjuntai ke jalan, di kawasan Jalan Braga, Kamis (8/6/2023). Pemangkasan pohon dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya cuaca ekstrem, agar tidak membahayakan pengguna jalan.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Petugas Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan Kota Bandung (DPKP3), Kota Bandung, melakukan pemangkasan bagian pohon yang lapuk dan menjuntai ke jalan, di kawasan Jalan Braga, Kamis (8/6/2023). Pemangkasan pohon dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya cuaca ekstrem, agar tidak membahayakan pengguna jalan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung mengungkapkan, Kota Bandung dan sekitarnya mengalami cuaca panas esktrem beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut terjadi karena musim kemarau yang dipengaruhi El Nino.

Kepala BMKG Bandung Teguh Rahayu mengungkapkan, Kota Bandung dan sekitarnya mengalami cuaca ekstrem beberapa hari terakhir. Tercatat cuaca panas ekstrem terjadi pada 1, 3, 6, 7, dan 8 Oktober.

Baca Juga

"Suhu maksimum (panas) ekstrem pada bulan Oktober sudah terjadi pada tanggal 1, 3, 6, 7, dan 8 Oktober," ujar dia melalui keterangan resmi yang diterima, Senin (9/10/2023).

Ia mengatakan suhu cuaca pada 2 Oktober, yaitu 33,1 derajat Celsius, tanggal 3 Oktober 33,2 derajat Celsius, 4 Oktober 31,6 derajat Celsius, 5 Oktober 32,6 derajat Celsius, 6 Oktober 34,6 derajat Celsius, 7 Oktober 34,6 derajat Celsius, dan 8 Oktober 35,6 derajat Celsius. Sedangkan, kondisi normal suhu panas bulan Oktober, yaitu 30,1 derajat Celsius.

 

Rahayu mengatakan suhu udara ekstrem yaitu kondisi suhu yang mencapai 3 derajat celsius atau lebih di atas nilai normal. Namun, hingga hari ini belum terjadi kembali cuaca panas ekstrem. "Hingga hari ini belum terjadi lagi suhu maksimum ekstrem di Kota Bandung," ujar dia.

Ia menyebut penyebab cuaca panas ekstrem, yaitu karena pengaruh El Nino dan IOD yang membuat musim kemarau lebih kering. Selain itu, awan yang relatif sedikit dibandingkan kondisi normal.

"Dengan kondisi itu maka permukaan bumi pada siang hari menjadi lebih panas, karena tidak ada penyerapan maupun proses pemantulan sinar gelombang pendek yang dipancarkan oleh matahari," kata dia.

Rahayu menambahkan terjadinya perbedaan tekanan udara antara satu lokasi dengan lokasi lain yang menyebabkan kecepatan angin meningkat dengan skala lokal. Kondisi panas terik pada siang hari dan angin kencang pada siang hingga sore hari adalah kondisi cuaca yang lazim terjadi pada puncak kemarau.

"Masyarakat diimbau untuk tidak panik, tapi mempersiapkan diri untuk mengurangi risiko bencana seperti menggunakan tabir surya apabila sering berkegiatan di luar ruangan pada siang hari," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement