Rabu 07 Feb 2024 17:02 WIB

Pupuk Subsidi Kurang, Petani di Indramayu Serbu Gebyar Diskon Pupuk Nonsubsidi

Untuk menutupi kekurangan pupuk, petani terpaksa harus merogoh kocek lebih.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Arie Lukihardianti
Para petani di Kabupaten Indramayu menyerbu Gebyar Diskon Pupuk yang diadakan oleh Pupuk Indonesia, di Gudang Pupuk Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Rabu (7/2/2024).
Foto: Republika/Lilis Sri Handayani
Para petani di Kabupaten Indramayu menyerbu Gebyar Diskon Pupuk yang diadakan oleh Pupuk Indonesia, di Gudang Pupuk Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Rabu (7/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Para petani di Kabupaten Indramayu menyerbu Gebyar Diskon Pupuk yang diadakan di Gudang Pupuk Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Rabu (7/2/2024). Mereka antusias memperoleh pupuk nonsubsidi dengan harga terjangkau untuk memenuhi kebutuhan pemupukan di musim tanam rendeng (penghujan) 2023/2024.

Berdasarkan pantauan Republika, para petani dari sejumlah desa di Kabupaten Indramayu berdatangan memenuhi arena Gebyar Diskon Pupuk. Ada 5.000 voucer diskon yang disediakan Pupuk Indonesia dalam kesempatan tersebut.

Baca Juga

Dengan voucher itu, petani bisa memperoleh satu paket pupuk dengan harga Rp 270 ribu, dari harga normal Rp 450 ribu. Adapun setiap paket pupuk itu terdiri dari pupuk Nitrea (urea) seberat 25 kilogram dan pupuk Phonska Plus 25 kilogram. Para petani yang ingin membeli voucher itu syaratnya cukup menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Salah seorang petani asal Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Sadriya (54), mengatakan, untuk memupuk tanaman padinya, dibutuhkan pupuk urea sebanyak 2,5 kuintal dan Phonska dua kuintal per hektare. Dengan demikian, jumlah total pupuk yang dibutuhkannya sekitar 4,5 kuintal.

Sadriya mengatakan, pada tahun lalu, jatah pupuk subsidi yang diperolehnya mencapai empat kuintal, yang terdiri dari Urea dan Phonska. Sedangkan tahun ini, jatah pupuk subsidi yang diperolehnya total hanya 1,8 kuintal.

Untuk menutupi kekurangannya, Sadriya terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pupuk nonsubsidi. Dia menyebutkan, harga pupuk nonsubsidi untuk urea di kisaran Rp 700 ribu – Rp 800 ribu per kuintal dan Phonska mencapai Rp 1 juta per kuintal. Harga itu lebih mahal dibandingkan harga pupuk subsidi yang harganya hanya di kisaran Rp 270 ribu per kuintal, baik urea maupun phonska.

‘’Umur tanaman padi saya sekarang ini sudah 20 hari. Harusnya sudah pemupukan, tapi belum selesai karena pupuknya kurang. Mau beli pupuk non subsidi kan mahal,’’ kata Sadriya.

Untuk itu, Sadriya menyambut antusias Gebyar Diskon Pupuk yang diadakan oleh Pupuk Indonesia. Dia mengaku bisa membeli pupuk nonsubsidi dengan harga seperti pupuk subsidi. ‘’Ya Alhamdulillah sangat terbantu,’’ kata Sadriya. 

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut, Direktur Operasi dan Produksi Pupuk Kujang, Robert Sarjaka mengatakan, pemerintah melalui Pupuk Indonesia, membantu para petani memperoleh pupuk dengan mudah guna mendukung program percepatan musim tanam pada awal tahun 2024.

‘’Kami menyadari jumlah pupuk subsidi terbatas. Makanya untuk mempercepat proses musim tanam ini, kami, sesuai arahan Menteri BUMN, Bapak Erick Thohir, mengadakan Gebyar Diskkon Pupuk untuk menyediakan pupuk yang terjangkau,’’ kata Robert.

 Gebyar Diskon Pupuk 2024, kata Robert, diselenggarakan Pupuk Indonesia, bekerjasama dengan pemerintah, di berbagai kota selama Januari hingga Februari 2024. Salah satunya di Kabupaten Indramayu, yang merupakan daerah lumbung pangan di Indonesia. ‘’Kami berikan diskon 40 persen, untuk Nitrea 25 kilogram dan Phonska 25 kilogram,’’ kata Robert.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement