Sabtu 09 Mar 2024 10:43 WIB

Kasus DBD di Jabar Terus Meningkat Hingga 7.654, Paling Banyak di Bogor

Angka kematian yang disebabkan DBD capai 71 kasus

Pewarat mengecek saturasi oksigen pasien demam berdarah dengue
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pewarat mengecek saturasi oksigen pasien demam berdarah dengue

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG ---Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Jawa Barat (Jabar) terus meningkat. Bahkan berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, sejak Januari 2024 hingga saat ini penyakit disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegepty ini tercatat sebanyak 7.654 kasus.

"Kasus, yang tertinggi itu ada di Kota Bogor sekitar 800 an, lalu di KBB (Kabupaten Bandung Barat) ada 800 an juga, dan di Subang 700 an (kasus). Jadi sampai demlngan tanggal 8 maret ini (2024) kasus DBD di Jabar sudah mencapai 7.654," ujar Kepala Dinkes Jabar, Vini Adiani Dewi, di acara BEJA di Gedung Sate Bandung, Jum'at (8/3).

Baca Juga

Selain tercatat adanya penambahan kasus, kata Vini, angka kematian yang disebabkan oleh DBD juga, kini mengalami peningkatan dari sebelumnya yang hanya tercatat sebanyak 41 orang. "Untuk angka keematian, sekarang itu ada di 71 kasus (orang) dimana untuk angka kematian yang tertinggi itu di Subang, lalu KBB, dan Kabupaten Bogor," katanya

Vini mengatakan, meningkatnya kasis DBD dalam waktu yang cukup singkat ini, karena disebabkan oleh adanya perubahan cuca. "Memang itu (perubahan cuaca) sangat berpengaruh cukup besar terhadap perindukan nyamuk tersebut (Aedes Aegepty). Jadi DBD inu kalau tidak ada nyamuk Aedes Aegepty, itu tidak akan menular. Jadi logikanya peningkatan kasus itu karena adanya lingkungan yang medukung perindukan nyamuk," paparnya

Vini mengaku pihaknya kini sudah menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar kasus DBD khusunya di Jabar tidak terus mengalami pentingkan. Bahkan selain itu juga, ia mengaku, pihaknya juga telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh Dinkes di Jabar, untuk segera melakukan pencegahan penyebaran kasus DBD.

"Karena ini  adalah penyakit lingkungan. Jadi kalau kita tidak menyelesaikan tempat berkembangbiaknya nyamuk, itu kasus DBD tidak akan selesai. Dan yang kedua, kita  juga sudah mendistribusikan bahan-bahan (pencegahan) seperti larvasida, abate, dan NS1. itu kita berikan ke lokasi-lokasi yang memang tinggi kasus DBD nya," katanya

Sebelumnya, Kasus DBD yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegepty, hingga saat ini di wilayah Provinsi Jawa Barat (Jabar) terus mengalami peningkatan.

Bahkan berdasarkan data laporan yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, Kepala Dinkes Jabar Vini Adiani Dewi menyebut hingga tanggal 29 Februari 2024 ini, angka penyebaran DBD telah tercatat sebanyak 5.552 kasus dengan angka kematian sekitar 41 orang.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement