Senin 15 Jul 2024 21:44 WIB

Apakah Puasa Asyura Tradisi Yahudi? Ini Jawabannya

Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk puasa Asyura.

Kubah Hijau Masjid Nabi di Masjid Nabawi, Sabtu (11/5/2024).
Foto: Karta/Republika
Kubah Hijau Masjid Nabi di Masjid Nabawi, Sabtu (11/5/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Muharram menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Nama Muharram secara etimologis berasal dari kata “haram” yang berarti suci atau terlarang. Muharram dimuliakan karena pada bulan ini diharamkan untuk melakukan peperangan.

Dalam Surah At-Taubah ayat 36, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci (arba’atun hurum). Selain Muharram, tiga bulan suci lainnya adalah Zulqa’dah, Zulhijah, dan Rajab, seperti yang dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dinukil dari situs resmi Muhammadiyah, Muharram memiliki hari yang mulia bagi umat Islam. Salah satu amalan khusus di bulan ini adalah puasa pada hari ‘Asyura, yaitu hari ke-10 bulan Muharram. Rasulullah shalallahu alahi wassalam memerintahkan berpuasa pada hari tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan setelah diwajibkannya puasa Ramadhan.

Rasulullah mempersilahkan untuk berpuasa atau tidak berpuasa. Puasa pada tanggal 10 Muharram dapat pula digabungkan dengan puasa pada tanggal 9 Muharram (puasa Tasu‘a).

Hal ini berdasarkan hadis dari ‘Abdullah Ibnu Abbas ra yang diriwayatkan: “Ketika Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan menyuruh para sahabat juga berpuasa, lalu mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura’ itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani…’” (HR. Muslim).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. disebutkan pada zaman Jahiliah, orang-orang Quraisy melakukan puasa ‘Asyura, kemudian Rasulullah saw memerintahkan agar melakukan puasa ‘Asyura’ tersebut sehingga diwajibkannya puasa Ramadhan. Rasulullah saw mengatakan, “Barang siapa yang ingin melakukan puasa ‘Asyura’ silakan, dan barang siapa yang tidak ingin melakukannya silakan berbuka.” [Hadis muttafaq ‘alaih].

Dalam hadis lain dari Ibnu Abbas r.a. disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika demikian, Insya Allah tahun depan kita berpuasa [juga] pada hari yang kesembilan.” Namun, sebelum tahun berikutnya tiba, Rasulullah saw telah wafat.” [HR Muslim dan Abu Dawud].

Lantas apakah puasa Asyura adalah tradisi Yahudi?

Rasulullah melaksanakan puasa Asyura tentu saja dengan izin dari Allah, bukan “ikut-ikutan” agama lain. Saat Nabi Muhammad shalallahu alahi wassalam berhijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi Madinah juga melakukan puasa pada hari Asyura.

Rasulullah pun menanyakan hal tersebut sebab sebelumnya beliau melaksanakan puasa Asyura mengikut tradisi Ibrahim yang masih tersisa. Ternyata keterangan dari orang-orang Yahudi Madinah memberikan alasan lain bahwa hari Asyura juga terjadi peristiwa diselamatkannya Musa dari bala tentara Fir’aun.

Sebagai penutup risalah para nabi dan rasul, Nabi Muhammad merasa lebih berhak melaksanakan puasa tersebut sehingga ia menegaskan kembali sunnahnya puasa Asyura. Karenanya, Nabi Muhammad sama sekali tidak mengikuti tradisi Yahudi sebab sebelum bertemu dengan orang-orang Yahudi Madinah pun beliau telah melakukan puasa Asyura.

Dalam aspek ibadah umat Islam yang awalnya sama dengan Yahudi lalu berubah ketika ajaran Islam semakin purna pewahyuannya seperti kiblat. Awalnya kiblat umat Islam adalah Baitul Maqdis, lalu berubah menjadi Ka’bah.

Puasa Asyura masuk dalam kategori ini, awalnya Nabi Saw berpuasa pada hari yang sama dengan Yahudi Madinah, tapi selanjutnya beliau memberikan pembedaan yaitu dengan anjuran puasa tasu’ah (9 Muharram), satu hari sebelum 10 Muharram.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement