REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat mengungkapkan kondisi okupansi atau keterisian kamar hotel di Jawa Barat selama musim lebaran 1446 Hijriah. Mereka menyebut okupansi hotel masih defisit dan belum untung.
Ketua PHRI Jawa Barat Dodi Ahmad Sofiandi mengatakan okupansi hotel sejak tanggal 1 Maret hingga 27 Maret di angka 20 persen. Selanjutnya, okupansi hotel di tanggal 28 hingga 30 Maret menjadi 30 persen.
"Tanggal 31 Maret hingga tanggal 5 April saat masa liburan diperkirakan 80 persen okupansi, selanjutnya menurun jadi 30 persen," ucap dia saat dikonfirmasi, Kamis (3/4/2025).
Kondisi tersebut jauh menurun jika dibandingkan pada tahun 2024. Dia mengatakan saat bulan puasa okupansi hotel mencapai 50 persen. Sedangkan pada tahun 2025 tidak ada pemesanan untuk rapat sehingga anjlok di angka 20 persen.
Dodi mengatakan okupansi hotel di bulan Maret dan saat libur lebaran tidak akan menutup operasional hotel. Sebab untuk menutupi operasional hotel minimal mencapai 50 persen."Setelah Lebaran belum jelas juga (okupansi)," kata dia.
Dodi mengatakan hotel-hotel di Jawa Barat saat ini masih defisit. Oleh karena itu, potensi pemangkasan karyawan di bulan Mei masih dapat terjadi."Sekarang pegawai kontrak yang sudah habis kontrak tidak dilanjutkan, daily worker sudah tidak ada," kata dia.
Ia menyebut sejumlah pimpinan hotel pun terpaksa diberhentikan. Dodi mengaku hingga saat ini belum ada solusi dari pemerintah bagi para pelaku hotel.