Selasa 06 Jan 2026 22:09 WIB
Lipsus Krisis Sampah

Bandung Lautan Sampah karena TPA tak Sanggup Lagi 'Memakan' Limbah

Risiko darurat sampah dapat terjadi di Kota Bandung mulai 12 Januari 2026.

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Karta Raharja Ucu
Pemulung memilah sampah plastik di zona perluasan atau zona 5 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (16/7/2025). Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mengoperasikan zona 5 TPA Sarimukti yang mengusung sistem sanitary landfill seluas 6,3 hektare dan diharapkan dapat memperpanjang usia pakai TPA itu hingga 2,5 tahun ke depan.
Foto: ANTARA FOTO/Abdan Syakura
Pemulung memilah sampah plastik di zona perluasan atau zona 5 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (16/7/2025). Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mengoperasikan zona 5 TPA Sarimukti yang mengusung sistem sanitary landfill seluas 6,3 hektare dan diharapkan dapat memperpanjang usia pakai TPA itu hingga 2,5 tahun ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sebutan Bandung Lautan Api bisa jadi berubah menjadi Bandung Lautan Sampah. Alasannya, sampah kerap menumpuk di beberapa sudut Kota Kembang sehingga tak sedap dipandang. Apalagi seiring keterbatasan kuota pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, membuat Pemerintah Kota Bandung pusing tujuh keliling.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pun menargetkan pengelolaan sekitar 30 persen timbulan sampah pada Februari 2026. “Artinya, dari total timbulan sampah sekitar 1.500 ton per hari, hampir 500 ton dapat ditangani, meskipun masih menyisakan pekerjaan rumah sekitar 70 persen atau hampir 1.000 ton per hari,” ujar Farhan di Bandung, Senin.

Farhan menyebut pengelolaan saat ini telah mendekati 20 persen atau kurang lebih 320 ton sampah per hari yang dikelola dan dimusnahkan melalui teknologi yang tersedia. Ia menegaskan, penanganan sampah tidak memiliki satu solusi tunggal. Menurut dia, diperlukan langkah-langkah terstruktur dan berkelanjutan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara menyeluruh.

“Tidak ada satu solusi ajaib dalam penanganan sampah. Dibutuhkan langkah-langkah yang terstruktur dan berkelanjutan,” katanya.

photo
Sejumlah petugas mengangkut sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Selasa (16/11). Pedagang dan warga mengeluhkan tumpukan sampah yang belum diangkut oleh dinas terkait, karena mengganggu kenyamanan dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit serta menjadi salah satu penyebab banjir di kawasan tersebut. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Salah satu lokasi yang menjadi tempat produksi sampah adalah pasar. Pada Juli 2025 di Pasar Gedebage, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung mengangkut 80 ton sampah yang menumpuk. Sampah-sampah itu pun baru diangkut dan dibawa ke pengolahan sampah setelah lama tak tersentuh.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan (DLHK) Kota Bandung Darto saat itu mengakui pengangkutan sampah di Pasar Gedebage dilakukan setelah menerima laporan pengaduan masyarakat. Ia menyebut sampah yang menumpuk sudah lama tidak ditangani dan banyak.

"Kita merespon keluhan warga, pertama pedagang pasar dan pengguna jasa layanan pasar. Mengingat ini sudah cukup lama tidak ditangani dan sampah sudah menumpuk cukup lama dan cukup besar volumenya begitu," ucap dia, Jumat 4 Juli 2025.

Pemkot Bandung pun akan segera meluncurkan program petugas pemilah dan pengolah sampah untuk satu orang di setiap RW guna memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya. Ia menyebut sebanyak 1.597 petugas pemilah dan pengolah sampah akan bertugas untuk mengedukasi sekaligus mendampingi warga dalam memilah sampah sejak dari rumah.

“Setiap RW ditargetkan bisa mengurangi minimal 25 kilogram sampah organik per hari. Sampah organik nantinya diangkut secara terpisah dari sampah anorganik atau residu,” ujar Walkot Farhan. Menurut Farhan, jika target tersebut tercapai di seluruh RW, maka Kota Bandung berpotensi mengurangi hingga 40 ton sampah organik per hari yang sebelumnya dibuang ke TPA.

Tumpukan sampah menggunung di Pasar Kosambi, Kota Bandung.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement