REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN – Sedikitnya 50 ekor ikan dewa yang ada di Balong Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ditemukan mati dalam tiga hari terakhir. Kematian ikan yang dikenal keramat oleh masyarakat itu merupakan kejadian yang jarang terjadi dalam 15 tahun terakhir.
Seorang petugas kolam di Balong Cigugur, Rohman Sutadi, menjelaskan, kematian ikan dewa itu pertama kali diketahui pada Kamis (29/1/2026). Saat itu, ditemukan ada 14 ekor ikan yang mati.
Kondisi itu kembali terulang pada Jumat (30/1/2026), dimana ditemukan ada sekitar 25 ekor ikan dewa yang mati. Selanjutnya, pada Sabtu (31/1/2026) sore ada sekitar 11 ekor ikan dewa yang mati.
“Sampai hari ketiga itu ada 50 ekor ikan dewa yang mati,” ujar Rohman, kemarin.
Adapun ciri fisik ikan dewa yang mati itu di antaranya terlihat luka berwarna merah pada tubuh mereka. Selain itu, sisik ikan mudah terlepas, insang terlihat pucat dan diduga ada parasite yang menempel di semua bagian tubuh ikan.
Rohman mengatakan, di kolam seluas 500 meter persegi itu terdapat sekitar 1.000 ekor ikan dewa. Ikan-ikan yang mati itu kemudian dikubur agar tidak menularkan ke ikan-ikan yang masih hidup.
“Dalam 15 tahun terakhir ini, baru sekarang (kejadian kematian ikan dewa) dan jumlahnya masif,” ucapnya.
Rohman memperkirakan, kematian ikan dewa itu tak lepas dari kondisi cuaca yang ekstrim beberapa hari terakhir. Ia pun mengaku khawatir kematian ikan itu akan terus terjadi apabila cuacanya masih seperti ini.
Sementara itu, Kabid Perikanan, Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Deni Rianto, menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan. Hasilnya, diketahui ada parasit jenis cacing yang hidup di tubuh ikan sehingga menyebabkan terjadinya kematian tersebut.
“Hal itu menyebabkan kerusakan pada insang dan badan ikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi itu diperparah dengan kurangnya debit air yang masuk ke balong tersebut maupun sirkulasinya. Selain itu, ikan-ikan tersebut juga kurang mendapat asupan makanan sehingga badannya kurus dan mudah terserang penyakit.
“Kita prihatin karena ikan dewa dikenal ikan ikonik, ikan yang konservatif, dan mungkin oleh warga Kunnigan sangat diagungkan, sangat dijaga kelestariannya. Kita sama-sama bertangung jawab agar kematian ikan ini tidak terjadi lagi,” ucapnya.
Selain di Balong Cigugur, ikan dewa juga hidup di objek wisata Cibulan, Darmaloka di Kecamatan Darma, Linggarjati di Kecamatan Cilimus dan Pasawahan.
Selama ini, ikan dewa dikeramatkan oleh warga. Berdasarkan cerita turun temurun, ikan tersebut konon merupakan pasukan Prabu Siliwangi yang dikutuk karena tidak setia kepada sang raja Pajajaran tersebut.