Sabtu 07 Feb 2026 13:27 WIB

Program Gentengisasi Presiden Prabowo Hidupnya Denyut Ekonomi Pengrajin Genteng Majalengka

Pemkab Majalengka mendukung program gentengisasi Presiden Prabowo.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Karta Raharja Ucu
Pekerja memproduksi genting di Jebor Dua Saudara, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (11/11/2021). Sejumlah pengusaha genting setempat menyatakan produksi genteng Jatiwangi semakin menurun karena banyak tenaga kerja yang beralih menjadi pekerja pabrik garmen dan konveksi sehingga banyak usaha genting yang gulung tikar.
Foto: Antara/Dedhez Anggara
Pekerja memproduksi genting di Jebor Dua Saudara, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (11/11/2021). Sejumlah pengusaha genting setempat menyatakan produksi genteng Jatiwangi semakin menurun karena banyak tenaga kerja yang beralih menjadi pekerja pabrik garmen dan konveksi sehingga banyak usaha genting yang gulung tikar.

REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA -- Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menggagas ‘gentengisasi’ atau penggunaan atap genting pada bangunan. Hal itu sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia yang indah, sejuk, dan layak huni.

Menanggapi gagasan presiden, Bupati Majalengka, Eman Suherman pun menegaskan komitmen Pemkab Majalengka untuk mendukungnya. Menurutnya, kebijakan itu juga selaras dengan arah pembangunan daerah melalui program Majalengka Langkung SAE, yang menekankan pembangunan berkelanjutan, berkeadilan, dan berpihak pada ekonomi rakyat.

Baca Juga

“Penggunaan atap genting sejalan dengan semangat Majalengka Langkung SAE, di mana pembangunan tidak hanya mengejar fisik, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha dan perajin lokal,” ujar Eman, kemarin.

Ia menjelaskan, Majalengka memiliki potensi industri genting rakyat yang cukup besar dan tersebar di sejumlah kecamatan. Dengan adanya arahan Presiden tersebut, Pemkab Majalengka akan mendorong penggunaan atap genting pada pembangunan gedung pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, serta infrastruktur publik lainnya.

“Ini adalah bentuk keberpihakan nyata kepada produk lokal. Selain lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan karakter iklim daerah, genting juga mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan dan membuka lapangan kerja,” tambahnya.

Eman menegaskan, implementasi kebijakan itupun akan disinergikan dengan perencanaan pembangunan daerah. Melalui sinergi antara kebijakan pusat dan daerah, ia berharap Majalengka dapat terus tumbuh sebagai daerah yang mandiri secara ekonomi, kuat secara sosial, serta berkelanjutan dalam pembangunan lingkungan.

Seperti diketahui, genteng Jatiwangi selama ini menjadi ikon yang melekat kuat pada Kabupaten Majalengka. Bukan sekadar produk bangunan, melainkan juga simbol warisan budaya, keterampilan turun-temurun, dan denyut ekonomi rakyat.

Dengan kualitasnya yang dikenal kuat, genteng Jatiwangi juga tahan lama dan menyatu dengan karakter rumah-rumah tradisional. Genteng Jatiwangi pun mengalami masa keemasan pada tahun 1980-an sampai awal millenium.

Selama rentang waktu tersebut, genteng Jatiwangi memasok pasar di seluruh Indonesia, bahkan diekspor ke sejumlah negara di Asia dan Eropa. Jumlah pabrik genteng Jatiwangi kala itupun menjamur sampai angka 600-an jebor (pabrik genteng).

Zaman berubah. Majalengka pun berubah. Pembangunan bendungan Jatigede di perbatasan Sumedang Majalengka, Bandara internasional Kertajati, Tol Cileunyi Sumedang Dawuan yang terhubung dengan tol Cipali, menandai dimulainya era industri di kawasan tersebut.

Sampai saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 120-an pabrik genting yang masih berusaha tetap hidup. Generasi mudanya lebih suka kerja di pabrik manufaktur besar yang bersih dan terlihat lebih keren.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement