REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Puluhan ribu jamaah umrah asal Indonesia hingga kini masih tertahan di Arab Saudi. Masyarakat pun diimbau untuk sementara menunda keberangkatan umrah menyusul masih memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah.
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Selly Andriany Gantina, menyebutkan, semula ada 58 ribu jamaah umroh asal Indonesia yang masih berada di Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.000 orang sudah kembali ke Tanah Air.
Namun, berdasarkan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), jumlah jamaah yang tersisa ada 48 ribu orang. Itu menunjukkan terdapat perbedaan data.
“Di awal itu kan 58 ribu. Kalau sudah dipulangkan 6.000, harusnya 52 ribu. Nah, sisanya ini ke mana?,” ucap Selly di Cirebon, kemarin malam.
Selly menduga, selisih tersebut berasal dari jamaah umrah mandiri yang tidak melapor atau menggunakan maskapai asing dengan rute transit. “Bisa saja mereka menggunakan Korean Air, Malaysia Airlines atau Philippine Airlines yang transitnya justru ke negara lain, baru sampai ke Indonesia. Nah, itu juga yang harus didata oleh pihak Imigrasi Indonesia,” ucap Selly.
Karena itu, Selly meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan jamaah umroh mandiri yang berpotensi tidak terdata secara menyeluruh. Koordinasi dengan negara transit harus dilakukan, terutama jika negara itu juga terdampak konflik di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, mengenai pelaksanaan haji, Selly mengungkapkan, berbagai persiapannya hingga kini masih terus berjalan. Untuk pemberangkatan tahap awal, dijadwalkan pada 21 April 2026.
“Namun keputusan final tetap menunggu kepastian dari Pemerintah Arab Saudi,” tukasnya.