Ahad 06 Sep 2026 14:03 WIB

Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau Sampai Kota Cimahi, Ini Buktinya

Partikel abu vulkanik terasa kasar ketika akan dibersihkan dari permukaan mobil.

Rep: Ferry Bangkit Rizki/ Red: Erik Purnama Putra
Kendaraan warga di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (6/9/2026), dipenuhi debu diduga abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Foto: Republika/Ferry Bangkit Rizki
Kendaraan warga di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (6/9/2026), dipenuhi debu diduga abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda menyebabkan abu vulkanik beterbangan hingga ke Kota Cimahi, Jawa Barat, Ahad (6/9/2026). Pantauan Republika, abu vulkanik terbawa angin menempel pada teras hingga mobil warga yang terparkir di luar rumah.

Seperti dialami oleh warga di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Kendaraan mereka sudah dipenuhi debu padahal malamnya masih bersih. Mereka meyakini partikel yang menempel di permukaan kendaraan sebagai abu vulkanik karena karakteristiknya berbeda dengan debu biasa.

Baca Juga

Saat dilap dan disiram air abu tak langsung bersih, namun tetap menempel. Belum lagi ketika disentuh oleh tangan lalu dicuci, debunya terasa lengket. Ketika mendongak ke langit dan terkena paparan debu, mata terasa perih berbeda ketika terkena debu biasa.

"Tadi malam mobil masih bersih, masih kinclong. Pagi-pagi sudah penuh debu, warnanya agak keabu-abuan juga. Ini beda sih dengan debu biasa," tutur Yogi Dwi, salah seorang warga.

Menurut Yogi, partikel abu vulkanik terasa kasar sehingga ketika akan dibersihkan dari permukaan kendaraan mesti lebih berhatu-hati. Sebagai antisipasi, beberapa hari ke depan kendaraannya akan ditutup sarung mobil. "Harus lebih ekstra bersihin debunya, soalnya kasar dan lengket. Mungkin ditutup dulu ya, bahaya kalau tiap hari ketempelan abu seperti ini," kata Yogi.

Sementara pakar kebencanaan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr Daryono, menjelaskan, bahaya abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terletak pada kombinasi fisik partikelnya yang sangat tajam dan kandungan kimiawi yang bersifat korosif. "Abu vulkanik itu berbeda dari debu biasa yang lunak dan mudah disaring, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis (kurang dari 2 mm)," kata Daryono.

Ukuran yang sangat halus itu, sambung dia, memungkinkan abu menembus sistem penyaringan alami di hidung dan meluncur langsung menuju saluran pernapasan bagian dalam hingga ke alveolus paru-paru. Secara kimiawi, kata Daryono, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral.

"Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," ucap Daryono.

Dampak abu vulkanik tidak hanya memicu peradangan pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi parah, rasa terbakar pada mata, serta gangguan pada kulit. Dalam jangka pendek, paparan abu ini langsung memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, sesak napas, terutama bagi penderita asma, serta iritasi mata.

"Untuk jangka panjang, endapan silika bebas yang tertimbun di dalam paru-paru dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen (silikosis), yang berisiko menurunkan fungsi paru-paru secara drastis," jelas Daryono.

​Untuk meminimalkan risiko tersebut, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi saat terjadi sebaran abu. Jika terpaksa harus beraktivitas di luar, penggunaan kacamata pelindung dan masker dengan tingkat filtrasi tinggi, seperti tipe N95 atau KN95. "Penggunaan masker sangat dianjurkan karena masker kain biasa tidak mampu menahan partikel mikroskopis ini," kata Daryono.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi