Rabu 14 Oct 2026 19:19 WIB

Karhutla Hanguskan 833 Hektare Lahan di Jabar

Kabupaten Sumedang merupakan tertinggi dengan tingkat karhutla mencapai 141 hektar.

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Karta Raharja Ucu
Api membakar hutan di Gunung Jati, Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (27/7/2026). Menurut warga, kebakaran hutan tersebut terjadi sejak Senin petang hingga malam hari dan hingga kini Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Api membakar hutan di Gunung Jati, Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (27/7/2026). Menurut warga, kebakaran hutan tersebut terjadi sejak Senin petang hingga malam hari dan hingga kini Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 833,78 hektar di Jawa Barat hingga 13 Oktober 2026. Kabupaten Sumedang merupakan tertinggi dengan tingkat karhutla mencapai 141 hektar.

Wilayah kedua ditempati Kabupaten Ciamis, yang mencatat 55 kejadian dengan luas 86,47 hektar disusul Kabupaten Subang sebanyak 49 kejadian dengan luas lahan terbakar 113,63 hektar. Selanjutnya, Kabupaten Sukabumi mencatat 38 kejadian karhutla dengan luas 71,07 hektar.

Baca Juga

Sementara itu, Kota Banjar mengalami 33 kejadian dengan luas 45,19 hektar, dan Kabupaten Bandung mencatat 32 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 36,45 hektar. karhutla pun menyebabkan tempat pembuangan akhir sampah di Garut mengalami kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun mengatakan, pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk kejadian kebakaran di Garut. Ia menyebut kebakaran TPA berawal dari kebakaran lahan.

Teten menjelaskan, kebakaran TPA memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran lahan biasa. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran telah sepenuhnya padam.

Menurut dia, api dapat bertahan di bawah tumpukan sampah dan kembali muncul meskipun kobaran di permukaan sudah berhasil dipadamkan. "Api di bawah permukaan terkadang masih menyala meskipun api di atas sudah padam. Kemudian, api bisa muncul kembali karena adanya gas metana," kata dia, Selasa (14/10/2026).

Ia menyebut salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena itu, penanganan kebakaran tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman api yang terlihat di permukaan.

"Dampaknya juga berkaitan dengan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Hal-hal seperti ini yang harus diantisipasi," kata dia.

Berita Lainnya

Rekomendasi