Kamis 12 Oct 2023 00:18 WIB

Minat Warga Indramayu Jadi PMI Masih Tinggi, Didominasi Perempuan

Jumlah PMI melonjak signifikan pada tahun 2022 yang mencapai 17.004 orang.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto
Bupati Indramayu, Nina Agustina.
Foto: Dok Diskominfo Indramayu
Bupati Indramayu, Nina Agustina.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Minat warga Kabupaten Indramayu untuk bekerja ke luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) masih tinggi. Selama ini, perempuan mendominasi PMI asal Kabupaten Indramayu.

Hal itu diakui oleh Bupati Indramayu Nina Agustina. Dia mengatakan, Kabupaten Indramayu merupakan salah satu daerah kantong terbesar PMI di Indonesia.

 

photo
Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah Arab Saudi kembali memulangkan 21 Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja secara ilegal di Arab Saudi.  (KJRI Jeddah)

 

 

‘’(Minat warga Indramayu jadi PMI masih tinggi?) Masih, masih seperti itu,’’ ujar Nina, dalam acara Sosialisasi Permenaker Nomor 4 Tahun 2023 tentang Jaminan Sosial Pekerja Migran Indonesia, di Sport Center Indramayu, Selasa (10/10/2023).

Nina menyebutkan, jumlah pendaftaran calon pekerja migran (CPMI) asal Kabupaten Indramayu tahun 2021 berjumlah 3.618 orang. Jumlah itu melonjak signifikan pada tahun 2022 yang mencapai 17.004 orang.

Sedangkan sepanjang Januari – September 2023, warga Indramayu yang mendaftar sebagai CPMI sebanyak 8.205 orang. Dari jumlah itu, jumlah perempuan yang terdaftar tahun 2023 sebanyak 6.024 orang

Sementara itu, jumlah warga Kabupaten Indramayu yang saat ini menjadi PMI di luar negeri mencapai 24.219 orang. Dari jumlah itu, jumlah PMI perempuan yang ada di luar negeri sebanyak 20.196 orang.

‘’Adapun jumlah warga Indramayu yang menjadi purna PMI sebanyak 70.695 orang,’’ katanya.

Nina menyatakan, Pemkab Indrmayu selalu berusaha memberikan pelayanan dan perlindungan terbaik kepada CPMI, PMI maupun purna PMI. Pelayanan yang diberikan di antaranya memberikan pelatihan, sosialsiasi peluang kerja ke luar negeri, sosialisasi migran aman dan dibentuknya Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA).

Selain itu, untuk purna PMI, Nina pun menginisiasi progam Perempuan Berdikari (Pe-Ri). Program itu memberikan pelatihan kewirausahaan bagi purna PMI perempuan, serta pendampingan perijinan berusaha dan fasilitasi pinjaman modal usaha.

‘’Melalui Pe-Ri, diharapkan bisa menciptakan UMKM baru yang berimplikasi pada sektor penguatan daya beli keluarga,’’ Nina menyebutkan, sejak dimulainya program Pe-Ri pada 2021 hingga September 2023, tercatat ada 2.390 orang purna PMI yang mengikuti pelatihan tersebut. Dia menargetkan, hingga 2026 mendatang, terdapat 6.340 orang wirausahawan baru dari program Pe-Ri. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement