Jumat 13 Oct 2023 08:11 WIB

Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar Desak Pemangku Kepentingan Cegah Bullying di Sekolah

Kasus perundungan sudah semakin memprihatinkan dan marak di berbagai daerah.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda
Praktik bullying oleh siswa di sekolah (ilustrasi). Kasus bullying atau perundungan semakin memperihatinkan karena marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Foto: BULLY.CA
Praktik bullying oleh siswa di sekolah (ilustrasi). Kasus bullying atau perundungan semakin memperihatinkan karena marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kasus bullying atau perundungan semakin memperihatinkan karena marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Termasuk Provinsi Jabar. Melihat kondisi ini, Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar, Abdul Hadi Wijaya, mendesak pada para ahli dan pejabat para pengambil keputusan yang berwenang untuk berdiskusi secara komperhensif.

"Mohon para yang berwenang, para ahli, psikologi remaja, ahli kriminal untuk diskusi secara komperhensif. Jangan lama,-lama, ini bukan fenomena kenakalan lagi tapi kriminal," ujar Abdul Hadi yang akrab disapa Gus Ahad, Jumat (13/10/2023).

Baca Juga

Menurut Gus Ahad, harus ada segera tindakan yang komperhensif untuk mencegah kasus bullying ini. Karena, sudah banyak kasus dan kekhawatiran di masyarakat. 

"Saya khawatir anak-anak semakin banyak mencontoh pelaku bullying yang viral. Mereka mencontoh dan mempraktikan pada temannya," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Gus Ahad, semua pihak terkait harus segera mengantisipasi dan mencegah kasus bullying ini. "Ini tak bisa dibiarkan, harus segera di stop. Kami berharap ada penanganan cepat dan komperhensif dari pemangku kepentingan," katanya.

Menurut Abdul Hadi, kasus bullying ini bahkan bukan hanya masalah anak-anak atau remaja yang ada di perkotaan saja. Tapi, sudah masuk ke wilayah pedesaan. "Jadi saya nggak berani menyebut apakah ada kurikulum sekolah yang salah atau seperti apa, silahkan para praktisi mendalami yang paham soal anak-anak dan remaja. Yang ingin saya soroti, ini bukan hanya masalah kota tapi sudah masuk ke wilayah pedesaan," katanya.

Padahal, menurut Abdul Hadi, dulu kasus bullying ini hanya terjadi kota besar. "Hal-hal yang seperti ini, perlu sistem untuk di antisipasi nggak layak dibanggakan kan sekarang kasus bullying banyak yang viral," katanya.

Gus Ahad menilai, tugas pemerintah untuk menyusun visi baru. Jadi masalah ini, jangan diabaikan. Saat ini, ia melihat diskusi pendidkan masih seputar hal yang mendasar. Yakni, masih berkutit di soal adaptasi kurikulum.

"Kalau tak antisipatif jadi kaget semua kan saat ada kasus viral bullying, ada di Cilacap, di Bogor sudah ada juga kan Jabar juga," katanya. 

Abdul Hadi menilai, kasus ini pun biasanya fenomena gunung es. Jadi bukan berarti tak viral maka tak ada kasus bullying. "Kondisi bullying yang terviralkan kan mungkin sedikit. Padahal banyak kasus bullying yang tak terungkap nanti bisa meletus juga," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement