Kamis 26 Oct 2023 19:40 WIB

Musim Hujan, Warga Bandung Diminta Waspada Penyakit DBD

Dinkes Kota Bandung akan melakukan uji coba metode Wolbachia.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Pasien penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Foto: Republika
(ILUSTRASI) Pasien penyakit demam berdarah dengue (DBD).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Jawa Barat, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada musim hujan. Pasalnya, saat musim hujan, ada potensi bermunculan sarang nyamuk pembawa virus dengue.

Kepala Dinkes Kota Bandung Anhar Hadian mengatakan, nyamuk Aedes aegypti pembawa virus dengue tidak membutuhkan banyak air untuk bertelur atau berkembang biak. “Jadi, jangankan (air di) bak mandi. Kalau kita buang plastik sembarangan, terus kehujanan, lalu ada air sedikit lah ya di situ, lalu air itu bertahan seminggu, itu bisa jadi tempat perkembangbiakan nyamuk,” kata Anhar, Kamis (26/10/2023).

Baca Juga

Anhar juga menyinggung soal persoalan sampah. Ketika sampah menumpuk, kata dia, bukan hanya menjadi sarang penyakit, tapi juga dapat menjadi sarang nyamuk. “Apalagi kita paham sampah kan banyak yang belum terangkut dari kota. Sekian bulan sampah belum terangkut, itu yang harus hati-hati,” ujarnya.

Sebelumnya Dinkes Kota Bandung melaporkan, pada 2023 ini, sejak Januari hingga Juli, terdata 1.281 kasus DBD. Adapun sepanjang tahun lalu terdata 5.205 kasus DBD.

 

Metode Wolbachia

Dalam upaya pengendalian DBD, salah satu cara yang akan diuji coba di Kota Bandung adalah metode Wolbachia. Anhar mengatakan, inovasi ini sudah menunjukkan keberhasilan menurunkan angka DBD di berbagai negara. Di Indonesia, kata dia, sudah dilakukan di Yogyakarta. “Sudah dicoba di Yogya dan kasus penyakitnya turun 70 persen. Bayangkan, turunnya 70 persen,” kata dia.

Karena itu, Anhar menilai, inovasi Wolbachia itu menjanjikan. Ia pun bersyukur Kota Bandung menjadi salah satu daerah yang dijadikan Kementerian Kesehatan sebagai pilot project penerapan inovasi tersebut. “Memang baru diuji coba di Ujungberung. Launchinginsyaallah, pertengahan November,” katanya.

Dengan metode tersebut, telur nyamuk Aedes aegypti akan disuntikkan bakteri Wolbachia dan dibiarkan menetas hingga menjadi nyamuk dewasa. Jika nyamuk dengan Wolbachia itu menggigit pengidap virus dengue, virus yang dihisap nyamuk itu akan dilumpuhkan oleh bakteri tersebut. Dengan begitu, nyamuk tersebut tidak akan bisa menyebarkan virus dengue lagi ke tubuh manusia.

Anhar berharap metode Wolbachia ini nantinya dapat berhasil menekan kasus DBD sebagaimana di Yogyakarta. Namun, untuk itu, kata dia, kemungkinan dibutuhkan waktu hingga satu tahun-dua tahun. 

“Minimal sama lah kayak Yogya, bisa turun 70 persen. Ya moga-moga di tahun kedua sudah turun lah. Tapi, ini kan baru diuji coba di satu kecamatan ya, bukan di satu kota. Jadi, penyebaran nyamuknya tidak akan jauh,” kata Anhar.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement