Senin 29 Jan 2024 16:44 WIB

Tak Hanya ITB, UGM Akui Mahasiswanya Ada yang Bayar UKT Pakai Pinjol Tapi Hanya 33 Orang

Pengguna aplikasi Pinjol banyaknya mahasiswa pascasarjana yang sudah bekerja.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Arie Lukihardianti
Seratus lebih mahasiswa yang tergabung di kabinet keluarga mahasiswa ITB melakukan aksi demonstrasi menolak penggunaan aplikasi pinjaman online untuk program biaya kuliah mahasiswa yang kesulitan membayar UKT di depan Gedung Rektorat ITB, Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Senin (29/1/2024).
Foto: Republika/M Fauzi Ridwan
Seratus lebih mahasiswa yang tergabung di kabinet keluarga mahasiswa ITB melakukan aksi demonstrasi menolak penggunaan aplikasi pinjaman online untuk program biaya kuliah mahasiswa yang kesulitan membayar UKT di depan Gedung Rektorat ITB, Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Senin (29/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN --Tak hanya di ITB, ternyata Perguruan Tinggi yang lain pun ada yang memanfaatkan pinjaman online (pinjol) untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Sekretaris Universitas Gadjah Mada (UGM), Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, membenarkan adanya opsi pembayaran UKT menggunakan pinjol. Namun Andi mengungkapkan tidak banyak mahasiswa yang menggunakan fasilitas tersebut.

"Jumlahnya 33 aja yang pakai dari 60 ribu sekian mahasiswa aktif UGM," ujar Andi kepada Republika, Senin (29/1/2024).

Baca Juga

Andi mengatakan, pengguna fasilitas financial technology (fintech) rata-rata merupakan mahasiswa pascasarjana yang sudah bekerja. Ia mengungkapkan fakultas yang sudah menerapkan pembayaran UKT baru di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM.

Dirinya tak merinci di prodi mana saja yang mahasiswa yang membayar UKT menggunakan fintech. "Sampai sekarang kami juga belum dapat detailnya yang pakai (pinjol) di mana tapi komunikasi dengan pimpinan FEB sampai hari ini itu sebagian besar memang prodi pascasarjana. Cuma pasca di mana saja itu belum dapat sampai detailnya," katanya. 

 

FEB UGM menyediakan tiga skema pembayaran UKT bagi mahasiswa yang kesulitan membayar UKT. Skema pertama yakni dengan mengajukan keringanan hinggal UKT nol alias gratis. Skema kedua yakni mahasiswa dicarikan beasiswa dari berbagai mitra perusahaan dan lembaga, termasuk dari Kafegama (Keluarga Alumni FEB UGM) atau beasiswa dari alumni dari berbagai angkatan. 

"Skema 1 2 itu kan disaring ya, jadi penyesuaian UKT itu saringan pertama, tapi kalaupun ketika disaring masih tidak mampu, kita mencarikan beasiswa. Beasiswa itu kan dari mana saja bahkan UGM punya kebijakan bahwa 5 persen dari sumbangan pengembangan institusi itu digunakan untuk beasiswa," paparnya.

Kemudian, skema terakhir yakni pembiayaan melalui kredit mahasiswa oleh perbankan atau lembaga keuangan non bank termasuk fintech. UGM tidak bisa melarang mahasiswanya untuk memilih skema tersebut.

"Kita itu membuka semua pihak bekerja sama dengan UGM. Kita tidak pro terhadap ini (pinjol) tetapi kalau ditanya kemudian UGM condongnya kemana, kalau kita condongnya yang tidak mau menambah kepada mahasiswa. Dan dari 60.300 itu ya alhamdulillah sampai sekarang itu sebagian besar selesai dengan skema pertama dan skema kedua. Tapi kita tidak bisa melarang dong kalau ada orang yang pengen ke sana," ujar Andi.

Sebelumnya FEB UGM tak menampik adanya opsi pembayaran UGM melalui fintech. Namun skema tersebut merupakan  opsi terakhir dari tiga opsi yang ada. "Pembiayaan tersebut merupakan opsi dan bisa disebut sebagai opsi terakhir. Opsi ini relevan misalnya untuk mahasiswa pascasarjana yang sembari bekerja ingin melanjutkan studi," kata FEB UGM dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Senin (29/1/2024). 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement