Ahad 10 Mar 2024 16:55 WIB

Harga Beras Melonjak, Pemilik Warung Nasi di Bandung Mengeluh Rugi

Pemilik warung, tidak menaikkan harga masakannya karena kasihan pada pembeli.

Rep: magang06/07/ Red: Arie Lukihardianti
warung nasi di Bandung
Foto: Magang 06/07
warung nasi di Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG---Harga beras terus melonjak hingga tembus Rp20.000 per kilogram. Kenaikan harga tersebut disusul dengan naiknya harga kebutuhan pokok lainnya. Di antaranya, gula, minyak, hingga cabai. Sebagai bahan pangan pokok bagi masyarakat Indonesia, kenaikan harga beras tersebut memicu kerugian bagi pemilik warung nasi. Hal ini pun dirasakan oleh beberapa pemilik warung nasi di Kota Bandung.

Munjul (67) pemilik warung nasi Cafe Munjul 2 di samping Kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengaku mahalnya harga berbagai kebutuhan pokok membuat usahanya semakin berat. Namun, ia tak bisa menaikan harga karena lokasi warungnya yang cukup tertutup dan berada di antara gang kecil.

Baca Juga

Munjul pun, enggan mengurangi porsi nasi. Karena dengan kondisi warungnya yang tak berada di lokasi strategis, akan membuat pembeli yang memang sedikit semakin sepi. "Kalau dikurangi (porsinya), malah lebih sepi. Gak dinaikkin sih (harganya). Gak dinaikkin atau dikurangi sih," ujar Munjul.

Munjul pun mengaku, naiknya harga beras dan bahan pangan membuatnya rugi dalam penjualan. "Ada ruginya pasti, di sayur, di ikan sedikit-sedikit apalagi beras," katanya.

Hal serupa juga dialami oleh Dede Sukarsih (67) yang mengeluhkan naiknya harga beras dan berbagai bahan pangan. Pemilik warung nasi Detika di Jalan Kampung Baru ini memilih untuk tidak menaikkan harga masakannya karena kasihan pada pembeli. "Gak dikasih, kasihan. Dikasih aja gitu, tapi porsi biasa. Biarlah, asal semua makanlah," katanya.

Selain itu, Dede juga tetap memilih beras yang bagus untuk dimasak di warung nasinya agar pembeli tetap bisa memakan nasi yang enak. "Sekilonya paling yang 14 atau 15, gimana bagusnya. Kalau buruk, beli yang mahal gitu," katanya.

Namun, Dede mengaku bahwa terkadang ia harus menalangi modalnya karena pendapatan yang berkurang. Belum lagi, lokasi warung nasinya yang berada tak jauh dari jalan raya membuatnya  menjadi incaran orang-orang tak dikenal untuk meminta nasi atau berhutang sehingga kerugian bertambah besar.

Naiknya harga beras juga, kata dia, menjadi keresahan para Ibu Rumah Tangga (IRT). Pengeluaran yang cukup tinggi untuk sehari-hari,  justru makin tinggi akibat naiknya harga beras.

"Pengeluarannya malah meningkat. Tadinya misalkan berapa, sekarang jadi nambah gitu kan. Terus kayak beras kan, kayak beras susah dicari. Susah banget. Terus kalau ada beras murah juga, ngantrinya ampun. Susah jadi gak dapet," keluh Imas (52 tahun).

Karena harga beras dan pangan yang naik tersebut, Imas mengaku belum bisa mengontrol pengeluarannya. Harapan Imas, mendekati bulan Ramadhan ini, harga beras dan bahan pangan kembali pulih.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement