Senin 11 Mar 2024 09:54 WIB

Nama KH Abdul Halim Dinilai Paling Tepat untuk BIJB

Ada tiga alasan utama kenapa nama KH Abdul Halim sangat tepat untuk menjadi nama BIJB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Arie Lukihardianti
Calon penumpang berjalan di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Ahad (29/10/2023). Kementerian Perhubungan memindahkan semua penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat per tanggal 29 Oktober 2023.
Foto: Antara/Dedhez Anggara
Calon penumpang berjalan di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Ahad (29/10/2023). Kementerian Perhubungan memindahkan semua penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat per tanggal 29 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA ---- Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana mengganti nama Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka. Terkait hal tersebut, Mantan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Endang Soetari Adiwikarta, menyebut nama KH Abdul Halim sebagai nama yang paling tepat untuk menjadi nama baru BIJB.

Rektor UIN SGD Bandung periode 1995-2003 ini menjelaskan, ada tiga alasan utama kenapa nama KH Abdul Halim sangat tepat untuk menjadi nama BIJB. Pertama, pemilihan nama bandara harus menggunakan nama tokoh pahlawan nasional yang berperan besar sejak zaman pra kemerdekaan serta terlibat dalam momen kunci pendirian Republik Indonesia.

Baca Juga

‘’KH Abdul Halim telah turut memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan sejak 1911 hingga beliau dipercaya menjadi salah satu diantara 60 anggota BPUPKI sebagai Panitia Pembelaan Negara. Ini bukti jelas beliau tokoh Jawa Barat yang berjasa besar bagi Republik Indonesia,’’ ujar Endang, dalam siaran persnya yang diterima Republika, Senin (11/3/2024).

Alasan kedua, kata Endang, kontribusi KH Abdul Halim dalam pembangunan bangsa sebelum kemerdekaan dan setelah proklamasi kemerdekaan, dilakukan dalam pembangunan kebangsaan. Selain bidang pendidikan ideologi, juga pemahaman politik, kesejahteraan sosial ekonomi, penggalangan pertahanan keamanan, dan dakwah keagamaan.

‘’Kiprah dan kontribusi KH Abdul Halim tidak hanya di Majalengka saja, tapi meluas dan menasional. Lembaga pendidikan, santri-santri beliau dan organisasi yang KH Abdul Halim dirikan, menyebar ke berbagai daerah dan provinsi. Beliau negarawan sejati,’’ kata Endang.

Pengakuan dan penghormatan kepada KH Abdul Halim sebagai Pahlawan Nasional ditandai dengan kegiatan rutin peringatan kemerdekaan Indonesia berupa ziarah ke makam almarhum di Pondok Pesantren Santi Asromo, Majalengka.

‘’Untuk kepentingan dan nama besar Jawa Barat yang direpresentasi nama Bandara Internasional Jawa Barat, saya kira nama KH Abdul Halim adalah nama yang paling tepat. Semoga Presiden Joko Widodo dan Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin bisa menangkap dan menyetujui usul ini,’’ papar Endang. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement