Rabu 17 Apr 2024 19:06 WIB

Grebeg Syawal, Tradisi Ziarah Keraton Kanoman yang Masih Lestari

Grebeg Syawal merupakan tradisi yang rutin diadakan oleh Kesultanan Kanoman Cirebon

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Arie Lukihardianti
Warga gelar doa bersama di acara Grebeg Syawal di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, Cirebon
Foto: Antara
Warga gelar doa bersama di acara Grebeg Syawal di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, Cirebon

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON---Keraton Kanoman Cirebon kembali menggelar tradisi Grebeg Syawal, tepat pada hari kedelapan bulan Syawal, atau yang tahun ini jatuh pada Rabu (17/4/2024). Ribuan warga dari berbagai daerah pun memadati Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Sembung, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, yang menjadi lokasi diadakannya tradisi tersebut. 

Grebeg Syawal merupakan tradisi yang rutin diadakan oleh Kesultanan Kanoman Cirebon sejak beberapa abad yang lalu. Prosesi ritual yang ditahbiskan  dalam bentuk “pengakuan” terhadap silsilah para leluhur itu diisi dengan doa dan tahlil untuk para raja Cirebon, khususnya raja-raja Kesultanan Kanoman, yang telah wafat.

Baca Juga

Grebeg Syawal dipimpin oleh Sultan Kanoman XII, Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin, yang kali ini diwakili oleh Gusti Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman.

Prosesi itu diawali dengan “grebeg”, yaitu berkumpulnya keluarga Sultan di Pendopo Jinem Keraton Kanoman Cirebon. Setelah itu, dengan dipimpin oleh Gusti Patih, mereka berangkat dari Pendopo Jinem Keraton Kanoman menuju Astana Gunung Sembung, yang menjadi lokasi makam Sunan Gunung Jati dan keturunannya, termasuk raja-raja Keraton Kanoman. 

Sesampainya di Astana Gunung Sembung, rombongan dari Keraton Kanoman menuju Kori (pintu) Gapura, yakni pintu pertama yang ada di dekat alun-alun dan Kori (pintu) Krapyak. Setelah itu, mereka memasuki satu persatu pintu di Astana Gunung Sembung.

Yakni, dimulai dari pintu Pasujudan, yang merupakan pintu yang biasa para peziarah umum berdoa dan bertawasul. Setelah itu, memasuki pintu Ratna Komala, pintu Jinem, pintu Rararoga, pintu Kaca, pintu Bacem, baru kemudian kepintu yang kesembilan, yakni pintu Teratai, menuju ruangan dalam pesarean Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yang berada di puncak bukit Gunung Sembung (Giri Nur Saptarengga).

Di ruangan dalam pesarean itu, Gusti Patih bersama keluarga memulai prosesi Ngarwah. Yaitu, membacakan tahlil, dzikir serta berdoa di makam-makam leluhur Cirebon yang ada di dalam Gedung Jinem, makam panembahan Ratu I, dan makam sultan-sultan Cirebon.

‘’Esensi prosesi ritual ini melakukan ziarah kubur atau nyekar ke makam raja-raja Kesultanan Kanoman yang telah wafat dan disemayamkan di kompleks Astana Gunung Sembung,’’ ujar juru bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi.

Tak hanya itu, tradisi tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antara sultan, keluarga sultan dan masyarakat dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri maupun hari raya ketupat setelah enam hari puasa sunah di bulan Syawal. Keluarga keraton juga melakukan saweran untuk masyarakat.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

  • 1 kali
  • 2 kali
  • 3 kali
  • 4 kali
  • Lebih dari 5 kali
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement