Jumat 29 Aug 2025 19:19 WIB

Pakar Pendidikan dari Jepang, Beri Pelatihan Open Lesson ke Ratusan Guru di Bandung

Para murid dihadirkan untuk menerima pengajaran soal matematika

Sensei Takasi Marimoto dan Sensei Hidemi Tanaka menyampaikan materi saat ASEAN Practice Exchange Open Lesson, di Aula SMP Alfa Centauri, Kota Bandung, Jumat (29/8/2025). Acara tersebut menjadi forum pertukaran praktik pembelajaran antarpendidik di kawasan ASEAN, dengan menghadirkan guru dan ahli pendidikan dari Jepang serta kolaborasi guru-guru Indonesia.
Foto: Edi Yusuf
Sensei Takasi Marimoto dan Sensei Hidemi Tanaka menyampaikan materi saat ASEAN Practice Exchange Open Lesson, di Aula SMP Alfa Centauri, Kota Bandung, Jumat (29/8/2025). Acara tersebut menjadi forum pertukaran praktik pembelajaran antarpendidik di kawasan ASEAN, dengan menghadirkan guru dan ahli pendidikan dari Jepang serta kolaborasi guru-guru Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Ratusan guru dan murid antusias mengikuti The 4th Practice Asian Exchange “Through Lesson Study for Learning Community” di Aula SMP Alfa Centauri, Bandung, Jumat (29/8/2025). Hadir sebagai pembicara utama, Prof Masami Isoda, PhD dari The University of Tsukuba Japan, bersama para narasumber dari Negeri Sakura yakni Sensei Takasi Morimoto, Sensei Hidemi Tanaka, dan Sensei Tatsumi Sumi.

Sementara dari Indonesia, hadir Arif Hidayat, S.Pd., M.Si., Ph.D.Ed. mewakili ALSI (Asosiasi Lesson Study Indonesia), serta guru-guru SD Alfa Centauri yang membuka ruang praktik di aula. Selain itu, acara ini pun dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dinas Pendidikan Kota Bandung, hingga Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif, dan sejumlah sekolah yang ada di sekitarnya di Kota Bandung.

Baca Juga

Sekitar 100 peserta hadir sebagai observer. Yakni, terdiri dari 50 guru internal Alfa Centauri dan 50 guru dari sekolah mitra maupun jejaring ALSI. Semua terlibat aktif menyimak, mengamati, dan merefleksikan proses pembelajaran yang didemonstrasikan.

Para murid pun dihadirkan untuk menerima pengajaran di antaranya soal matematika dari para pakar internasional yang berperan menjadi guru. Mereka duduk layaknya di dalam kelas, dikelilingi para guru yang menyaksikan anak-anak tersebut mendapat pengajaran.

Menurut Ketua Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif, Ihsan Ibadurrahman, S.Pd., M.HSc., sangat penting mengadopsi open lesson ala Jepang. “Jadi ada dua mata pelajaran yang hari ini kita akan kolaborasikan. Yang pertama matematika, yang kedua STEM (Sains (Science), Teknologi (Technology), Teknik/Rekayasa (Engineering), dan Matematika (Mathematics)) ya,” ujar Ihsan.

Ihsan mengatakan, pihaknya menghadirkan pembicara dari Jepang agar bisa berbagi pengalaman bagaimna memberi ruang bagi guru untuk mengajar di hadapan rekan sejawat. Bahkan, orang tua dan siswa, agar pembelajaran lebih transparan sekaligus menjadi bahan refleksi bersama.

“Jadi ini adalah konsep di Jepang yang mana mereka sebutnya open lesson di mana ada satu guru yang mengajarkan anak dan itu ditonton oleh guru-guru lain. Yang tujuannya adalah supaya guru-guru yang menonton itu nanti bisa mengambil inspirasi dari pembelajaran yang mereka tonton. Dan nanti ada self reflection, ada tanya jawab dan lain-lain,” kata Ihsan.

Ihsan menilai, pendekatan tersebut mampu menggeser paradigma guru dari sekadar menekankan hafalan menuju pemahaman konsep yang lebih bermakna. Ia mencontohkan bagaimana pengajaran matematika yang ditampilkan bisa lebih sederhana, sesuai usia anak, tanpa melulu bertumpu pada simbol-simbol angka. “Bahkan tadi itu nggak ada penjumlahan, nggak ada simbol pengurangan. Jadi benar-benar memang pembelajaran matematikanya dibuat lebih sederhana, sesuai dengan umurnya dan lebih ke konsep itu,” katanya.

Kegiatan ini, kata dia, tak hanya berfokus pada demonstrasi pembelajaran, tetapi juga membangun jejaring antarpendidik di Asia untuk berbagi praktik baik. Melalui diskusi reflektif, para guru didorong mengembangkan keterampilan pedagogik, terutama dalam mengajarkan matematika dan STEM.

Dengan total alokasi 8 jam pembelajaran, para peserta diharapkan memperoleh dokumentasi praktik terbaik (best practices), memperkaya pemahaman tentang mathematical thinking. Serta menumbuhkan komunitas belajar berkelanjutan antara guru Indonesia dan Jepang.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan melahirkan rekomendasi tindak lanjut bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Seperti disampaikan Ihsan, ke depan open lesson di Alfa Centauri berpotensi melibatkan orang tua siswa agar lebih dekat dengan praktik pendidikan sehari-hari.

Sementara Prof. Masami Isoda mengatakan, open lesson sebagai jembatan antara praktik nyata guru di kelas dengan kebijakan pendidikan. Ia menilai bahwa reformasi pendidikan di banyak negara kerap hanya menyentuh ranah kurikulum. Padahal, menurutnya, pembaharuan sejati seharusnya lahir dari pengalaman langsung di ruang kelas.

“Ketika kurikulum itu diganti, maka sebenarnya sumber aslinya adalah dari buka kelas. Ketika kelasnya dibuka, maka kita bisa memberikan rekomendasi-rekomendasi, inovasi-inovasi, untuk merubah kurikulum. Jadi ada pengetahuan aktual guru yang diperoleh dari kelas. Bukan semata-mata pengetahuan teori. Ini yang kami bawa,” kata Prof Isoda.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement