REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Bencana longsor pada 24 Januari 2026 meratakan tiga kampung di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Puluhan nyawa pun melayang tertimbun material longsor berupa tanah bercampur air serta bebatuan besar yang meluncur dari kaki Gunung Burangrang.
Sebulan berlalu, pemukiman di Kampung Pasirkuda, Kampung Pasirkuning dan Kampung Babakan berubah menjadi hamparan tanah yang sudah mengering. Bahkan sekarang, area longsor sudah bisa dilintasi pengendara motor yang hendak menuju kebun garapannya yang ada di atas bukit.
Selain tanah, ada juga bongkahan batu berukuran besar di beberapa titik longsor. Di sana juga muncul aliran sungai kecil yang menurut warga sebelumnya tidak ada. Sungai itu punya debit air yang tidak terlalu tinggi. Alirannya pun tak deras, tetapi airnya sangat jernih.
"Dulu sebelum longsor, enggak ada aliran sungai ini. Sekarang justru ada, bingung saya juga," kata Iman Rahmat (45), salah seorang warga saat ditemui, Kamis (26/2/2026).
Adapun hulu sungai itu diduga kuat ada di atas kaki Gunung Burangrang yang menjadi mahkota longsor yang mengubur pemukiman warga. Air itu mengalir di antara tanah longsor yang membelah sekitar 40 meter.
Selain aliran sungai yang tiba-tiba muncul, di bekas longsoran juga bertebaran mahkota-mahkota bunga berwarna-warni. Bahkan ada nisan yang sengaja dipasang warga bertuliskan nama anggota keluarga yang belum ditemukan.
"Ada nisan dari anggota keluarga yang belum ketemu. Ya masih ada yang datang ke sini, mereka mendoakan, sudah ikhlas," ucap Iman.