REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Bocah berinisial ASA (12 tahun) tewas bersimbah darah di tangan kakak tirinya, MZ (28). Pelajar kelas 6 SD itu dibunuh secara sadis di rumahnya di Kampung Warung Tiwu, RT 02/16, Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu dihabisi nyawanya pada Selasa (3/3/2026).
Tersangka membunuh adik tirinya dengan menggunakan senjata tajam hingga mengalami luka gorokan di bagian leher, luka tusuk di punggung, serta luka sayatan di pergelangan tangannya. Korban ditemukan di lantai dua rumahnya oleh sang ibu yang baru pulang usai bekerja dan mengajar di sebuah madrasah.
Fakta terbaru pun terungkap dari sosok korban yang ternyata merupakan anak yang aktif di sekolahnya. Ia juga tercatat sebagai anggota perguruan seni bela diri silat Satria Muda Indonesia. ASA diketahui merupakan pemegang sabuk merah strip dua atau tingkatan pratama utama.
"Anaknya baik, dia sudah tiga tahun ikut perguruan silat Satria Muda Indonesia. Sekarang sabuk merah strip dua," kata pelatih silat Satria Muda Indonesia, Gunawan, Jumat (6/3/2026).
Gunawan menyebut mendiang anak didiknya itu dikenal sebagai sosok anak yang cepat akrab dengan teman-teman seperguruannya. Kemampuan bela diri untuk anak berusia 12 tahun itupun diakuinya.
"Dia akrab sama teman-temannya, baik pokoknya. Saya ketemu terakhir sebelum puasa, karena kan kalau puasa program latihannya libur dulu. Kebetulan dua bukan atlet juga, kalau atlet tetap lanjut selama puasa," ujar Gunawan.
Ia kaget bukan main ketika mendapatkan kabar ASA meninggal dengan cara tragis. Kendati ASA memiliki bekal beladiri, namun jika ia dieksekusi orang dewasa dan dalam posisi tidak siap tentunya akan sulit memberikan perlawanan.
"Jadi saya dapat kabar itu sore di hari kejadian, dapat kabar dari anak saya katanya ASA meninggal dibunuh. Saya kaget dong, langsung datang kesini buat ngecek," ujar Gunawan.