Kamis 19 Mar 2026 14:04 WIB

PUI: Idul Fitri Momentum Penting Rekonsiliasi Bangsa

Idul Fitri memiliki makna mendalam sebagai waktu untuk membersihkan diri.

Rep: M. Fauzi Ridwan/ Red: Karta Raharja Ucu
Idul fitri (ilustrasi)
Foto: Republika
Idul fitri (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Persatuan Ummat Islam (PUI) mengungkapkan momen Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi kesempatan untuk memperkuat rekonsiliasi sosial dan kebangsaan di tengah dinamika geopolitik. Mereka menyebut Idul Fitri memiliki makna mendalam sebagai waktu untuk membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan.

Penasehat PUI Achmad Tjahja Nugraha mengatakan makna Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki relasi antar manusia. Termasuk dalam kehidupan berbangsa.

"Tradisi saling memaafkan yang terjadi setiap Idul Fitri seharusnya tidak berhenti pada simbol atau kebiasaan sosial semata. Hakikatnya adalah pembersihan hati, keikhlasan untuk menghapus dendam, serta membuka ruang rekonsiliasi yang tulus,” ucap guru besar UIN ini melalui keterangan resmi, Kamis (19/3/2026).

Ia mengatakan nilai memaafkan sendiri merupakan ajaran penting dalam Islam. Dalam Alquran Allah SWT memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 3:134:

Prof Achmad mengatakan semangat tersebut sangat relevan dengan kondisi kebangsaan yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, konflik kepentingan, hingga polarisasi di ruang publik. Idul Fitri dapat menjadi risalah nasional yang mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk kembali pada nilai persaudaraan, toleransi, dan persatuan.

“Idul Fitri adalah pesan moral bagi bangsa. Jika masyarakat mampu mempraktikkan maaf yang tulus, maka kehidupan sosial dan politik kita juga bisa lebih sehat dan damai,” kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement