REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Pembudi daya ikan yang memanfaatkan keramba jaring apung (KJA) di perairan Waduk Cirata dan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, didorong untuk beralih ke budi daya kolam darat. Pasalnya, pemanfaatan kedua waduk untuk aktivitas budi daya ikan sudah melebihi kapasitas yang ditetapkan.
Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, jumlah KJA di Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, mencapai 27.794 petak pada 2026. Sementara itu, jumlah KJA di Waduk Saguling yang terdata hingga 2025 mencapai 45.464 petak.
"Harapan ke depan para pembudidaya ikan di KJA mulai beralih ke kolam darat, karena kapasitasnya sudah melebihi dari ketentuan yang telah ditetapkan," kata Kepala Dispernakan KBB Wiwin Aprianti saat dikonfirmasi, Kamis (22/10/2026).
Menurut Wiwin, salah satu teknologi yang cocok diterapkan untuk budi daya ikan di kolam darat adalah mini Recirculating Aquaculture System (RAS). Teknologi ini merupakan sistem budi daya ikan skala kecil yang menggunakan perputaran dan penyaringan air secara terus-menerus sehingga air kolam dapat digunakan kembali tanpa harus sering diganti seluruhnya.
Mini RAS dilengkapi pompa, filter mekanis, filter biologis, dan aerasi untuk menjaga kualitas air serta kesehatan ikan. Teknologi ini juga dapat diterapkan pada lahan terbatas.
"Teknologi ini memungkinkan budidaya dilakukan pada lahan terbatas, dengan penggunaan air yang lebih efisien dan pengelolaan produksi yang lebih terkendali," ujar Wiwin.
Wiwin menjelaskan, kolam mini RAS cocok menjadi alternatif pengganti KJA karena dapat menghemat penggunaan air dan lahan sekaligus mengurangi kebutuhan penggantian air. Teknologi ini juga berpotensi mendukung kepadatan budi daya yang lebih tinggi, sementara kualitas air lebih mudah dikontrol melalui filtrasi dan aerasi.
"Kemudian produksi juga terjadwal yang mendukung perencanaan panen sesuai permintaan. Namun mini RAS juga membutuhkan investasi peralatan, listrik yang andal, pemeliharaan filter, dan pemantauan kualitas air secara rutin. Tapi cocok untuk pemberdayaan ekonomi di desa," jelas Wiwin.
Ia melanjutkan, produksi ikan di KBB, baik dari KJA di Waduk Saguling dan Cirata maupun kolam darat, mengalami penurunan tahun ini. Kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau yang menyebabkan debit air menyusut.
Produksi ikan sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 28.748 ton. Jumlah tersebut turun dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 38.296 ton.
"Produksi ikan di KBB sampai kuartal III 2026 mengalami penurunan. Sampai bulan Agustus produksi ikan sekitar 28.748 ton dari target 29.648 ton pada bulan Agustus 2026. Kalau ketersediaan air terus menurun, otomatis ruang untuk kegiatan budidaya juga terbatas. Kondisi ini pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas pembudidaya," ungkap Wiwin.
Dispernakan KBB berharap produksi ikan kembali meningkat pada akhir tahun seiring masuknya musim hujan. Dengan demikian, debit air di kolam darat maupun Waduk Saguling dan Cirata diharapkan kembali naik sehingga produksi ikan dapat pulih.
"Dan prediksi produksi kembali meningkat yaitu ketika musim hujan tiba antar bulan November-Desember," ucap Wiwin.