BANDUNG – Kondisi geografis dan geologis Indonesia yang rawan bencana menuntut pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap berbagai risiko. Sebanyak 11 perguruan tinggi berkolaborasi membahas inovasi perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan infrastruktur untuk menghadapi ancaman bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam Konferensi Nasional Teknik Sipil Indonesia ke-20 (KoNTekS 20) yang diselenggarakan di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung pada 22–23 Oktober 2026. Konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi teknik sipil untuk membahas tantangan pembangunan infrastruktur di wilayah rawan bencana.
Ketua Panitia KoNTekS 20 sekaligus Ketua Program Studi Teknik Sipil Itenas Bernardinus Herbudiman mengatakan Indonesia menghadapi risiko bencana yang beragam akibat karakteristik geografis, geologis, dan iklimnya. Kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam setiap tahapan pembangunan infrastruktur.
“Indonesia, negara kepulauan yang memiliki kondisi geografis, geologis, dan klimatologis yang sangat kompleks,” ujar Bernardinus, Jumat (23/10/2026).
Menurut Bernardinus, inovasi di bidang teknik sipil diperlukan untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap ancaman multibencana. Pengembangan teknologi dan metode konstruksi perlu mencakup perencanaan, perancangan, pembangunan, pengelolaan, hingga pemeliharaan infrastruktur.
KoNTekS 20 menghadirkan tiga pembicara utama, 11 pembicara undangan, serta 177 makalah ilmiah yang dipresentasikan dalam sejumlah sesi paralel. Pembahasan tersebut menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan hasil penelitian mengenai pengembangan infrastruktur yang lebih tangguh.
Sebanyak 11 perguruan tinggi terlibat dalam konsorsium penyelenggaraan konferensi tersebut. Selain Itenas, perguruan tinggi yang berpartisipasi meliputi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret, Universitas Udayana, Universitas Tarumanagara, Universitas Trisakti, Universitas Pelita Harapan, Universitas Katolik Soegijapranata, Universitas Balikpapan, Universitas Al Azhar Mataram, dan Universitas Nusa Cendana Kupang.
Bernardinus mengatakan keterlibatan perguruan tinggi dari berbagai daerah diharapkan memperluas pertukaran pengalaman mengenai tantangan pembangunan infrastruktur. Setiap wilayah memiliki karakteristik dan risiko bencana yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pembangunan yang sesuai.
“Sinergi lintas wilayah dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara ini menegaskan komitmen kolektif perguruan tinggi dalam mengawal pemerataan dan ketahanan infrastruktur di seluruh penjuru Indonesia,” kata Bernardinus.
Selain diskusi ilmiah, rangkaian kegiatan mencakup kunjungan lapangan ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata. Kunjungan tersebut menjadi salah satu agenda untuk melihat penerapan infrastruktur energi.
Pelaksana Tugas Direktur Pembangunan Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Gatot Sukmara mengapresiasi kolaborasi perguruan tinggi dalam penyelenggaraan KoNTekS 20. Menurutnya, hasil penelitian dan pengembangan teknologi dari perguruan tinggi dapat membantu pemerintah meningkatkan kemampuan mitigasi bencana.
“Agenda KoNTekS ini merupakan bentuk kolaborasi yang sangat baik dari perguruan tinggi yang harapannya dapat membantu pemerintah dalam memitigasi bencana di Indonesia,” ujar Gatot.
Gatot menilai pembangunan infrastruktur membutuhkan penanganan yang cepat, inovasi yang telah teruji, serta tata kelola yang akuntabel. Infrastruktur juga perlu dirancang agar mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi hidrometeorologi, geologi, dan geofisika.
Melalui konferensi tersebut, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah diharapkan dapat menghasilkan pendekatan pembangunan yang lebih sesuai dengan karakteristik wilayah Indonesia. Penguatan riset dan inovasi menjadi salah satu kebutuhan untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur dalam menghadapi risiko bencana.