Selasa 31 Jan 2023 08:14 WIB

RSUD Kota Bogor Tangani Puluhan Pasien Campak

Dari 36 pasien yang dirawat, kondisi pasien terbilang aman dan terkendali.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Agus Yulianto
Dirut RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir di Balai Kota Bogor, Kamis (25/3).
Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Dirut RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir di Balai Kota Bogor, Kamis (25/3).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Bogor, membuat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor bersiaga. Kesiapan itu dikarenakan, sekitar tujuh puluh persen kunjungan pasien di RSUD Kota Bogor merupakan warga Kabupaten Bogor.

Direktur Utama RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir, mengatakan, RSUD Kota Bogor bersiap diri apabila terjadi lonjakan kasus campak. “Tentu kami siap berperan untuk membantu mengatasi persoalan ini. Semua pasien campak yang kini dirawat di RSUD Kota Bogor tertangani dengan baik di sini,” kata Ilham, Senin (30/1/2023).

 

photo
Penyakit campak - (Republika)
 

Berdasarkan data yang tercatat, sepanjang 2022, RSUD Kota Bogor telah menangani 10 kasus campak. Dimana kasus tertinggi terjadi pada Desember, sebanyak lima kasus.

Jumlah kasus campak kemudian mengalami lonjakan pada awal 2023. Tercatat hingga 30 Januari 2023, terdapat 36 pasien kasus campak yang kini ditangani RSUD Kota Bogor.

Dari 36 pasien tersebut, sebanyak 14 pasien merupakan warga Kota Bogor. Sedangkan 22 pasien lainnya berasal dari Kabupaten Bogor.

Subkoordinator Perawatan Medik Rawat Inap RSUD Kota Bogor, Adhari Zulkarnain, mengatakan, dari 36 pasien yang dirawat, kondisi pasien terbilang aman dan terkendali. Para pasien itu, dirawat diruang anak Situgede.

“Dari 36 pasien yang ditangani, 11 pasien masih dirawat. Sementara 25 pasien sudah sembuh dan diperbolehkan pulang,” sebutnya.

Adhari menduga, kenaikan kasus campak dikarenakan selama dua tahun terakhir banyak anak yang tidak di imunisasi, akibat terfokusnya pelayanan kesehatan pada penanganan pandemi Covid-19.

“Bagi masyarakat yang ingin melakukan imunisasi bisa dilakukan di puskesmas terdekat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Adhari menjelaskan, penyakit campak disebabkan oleh virus RNA. Virus tersebut dapat ditularkan secara droplet yang keluar dari hidung, mulut atau tenggorokan orang yang terinfeksi campak pada saat bersin, batuk dan bicara. Meski rawan penularan, virus tersebut bersifat mudah mati karena ketidak tahanan terhadap suhu panas.

Sementara itu, pada 28 Januari lalu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor juga sempat mengumumkan situasi terkinj kasus campak di Kota Bogor. Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno, mengatakan, Dinkes telah mengirimkan 87 kasus suspek campak ke Laboratorium Bio Farma Bandung dengan keterangan masih menunggu hasil.

Berdasarkan data sebaran, kasus campak tersebar di 24 kelurahan dari 68 kelurahan yang ada di Kota Bogor. Dimana terdapat empat kelurahan dengan lebih satu kasus campak.

“Keempat kelurahan itu, yakni Kelurahan Gunung Batu sebanyak empat kasus, Kelurahan Loji tiga kasus, Kelurahan Pasir Jaya tiga kasus, dan Kelurahan Mulyaharja tiga kasus,” kata Retno.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement